Akibat Corona, Pendapatan KAI Terpukul dari Rp 25 M per Hari Jadi Rp 400 Juta

PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI menjadi salah satu perusahaan di bidang layanan transportasi yang terpukul akibat pandemi COVID-19.
Direktur Utama PT KAI, Didiek Hartantyo mengatakan, rata-rata pendapatan harian Perseroan saat ini hanya antara 7-10 persen dari hari-hari sebelum adanya wabah. Pendapatan ini berkurang karena tidak adanya layanan tiket penumpang.
"Dalam COVID-19 tekanan arus kas dalam sekali, pendapatan dari penumpang hanya sekitar 10 persen atau sampai 7 persen. Turun 90 sampai 93 persen sehingga ini yang paling terdampak," ujar Didiek dalam video conference, Jumat (22/5).
Ia memberikan gambaran, pendapatan dari angkutan penumpang kira-kira dari pendapatan yang semula bisa sampai Rp 25 miliar per hari pada situasi normal. Namun, sejak pandemi berlangsung, pendapatan mereka hanya Rp 400 juta per hari.
"Pendapatan penumpang rata-rata harian Rp 20 miliar sampai Rp 25 miliar satu hari, di beberapa hari besar misal 2 Januari bisa capai Rp 39 miliar. Namun dalam masa COVID-19, harian bisa tinggal Rp 400 jutaan sehingga satu bulan hanya Rp 32 miliar di April dan di Mei kita hanya operasikan kereta logistik dan Commuter Line," jelasnya.
Menurunnya pendapatan perusahaan transportasi pelat merah itu sudah berlangsung sejak tanggal 18 Maret 2020, di mana kebijakan WFH baru saja berjalan. Kemudian semakin memburuk ketika PSBB berlaku disertai larangan mudik.
"Mulai 18 Maret sejak WFH terjadi penurunan penumpang harian, jadi memang dalam kuartal 1, tiga bulan pertama mulai 18 maret berlanjut sampai April. Jadi pengaruhnya di April semakin turun di mana pendapatan satu bulan hanya Rp 32 miliar," ujar Didiek.
