Kumparan Logo

Akui Banyak Sumbang Gas Rumah Kaca, Para Pengusaha Tambang Janji Tekan Emisi

kumparanBISNISverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Foto udara area bekas tambang emas ilegal di kawasan hutan lindung Ulu Masen antara Kabupaten Pidie dan Kabupaten Aceh Barat, Aceh, Selasa (18/2/2020).  Foto: ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas
zoom-in-whitePerbesar
Foto udara area bekas tambang emas ilegal di kawasan hutan lindung Ulu Masen antara Kabupaten Pidie dan Kabupaten Aceh Barat, Aceh, Selasa (18/2/2020). Foto: ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas

Banyaknya aktivitas tambang di Indonesia yang ekstraktif, mulai dari tembaga hingga batu bara menyebabkan udara tercemar karena menghasilkan emisi karbon (CO2) yang merupakan bagian dari gas rumah kaca perusak atmosfer bumi.

Ketua Umum Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) Pandu Sjahrir mengakui adanya emisi karbon yang dihasilkan dari sektor pertambangan, termasuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang menggunakan batu bara.

"Saat ini total emisi C02 sekitar 1,263 giga ton karbon. Dari sisi itu, kami juga ketahui sepertiganya dari pembangkit listrik batu bara dan sektor pertambangan," kata dia dalam COE Talks Webinar: 'Sustainability Executiveconnect' Rabu (5/5).

Di sisi lain, pemerintah menargetkan Indonesia harus bebas emisi karbon alias nol persen pada 2050. Karena itu, Pandu mengatakan ada sejumlah siasat yang akan dilakukan sektor pertambangan untuk bisa menekan emisi karbon dalam waktu dekat.

Pandu Patria Sjahrir. Foto: Instagram/@pandusjahrir

Menurut dia, dengan adanya UU Cipta Kerja yang memiliki aturan mengenai hilirisasi batu bara akan meningkatkan efisiensi pembakaran.

Menurut dia, perkembangan teknologi di sektor pertambangan termasuk PLTU sangat penting untuk bisa merealisasikan target ini.

"Sekarang ada teknologi carbon capture utilization storage. Sebagai industri kita akan kurangi emisi CO2 melalui teknologi pemanfaataan CO2 untuk produksi alga dan injeksi Enhanced Oil Recovery (EOR)," ujarnya.

Mereka, kata Pandu, juga mengganti BBM menjadi Biodiesel 30 persen atau B30 dan menggunakan PLTS Atap untuk menggantikan genset di area proyek.

kumparan post embed

Sementara di PLTU, sudah digunakan teknologi ultra supercritical untuk meningkatkan efisiensi dan polusi yang lebih rendah. Dari sisi EOR, mereka juga gunakan pembangunan refortation kepada sektor tambang yang telah selesai.

Pengusaha batu bara di APBI juga akan melakukan kajian dengan pihak ketiga untuk melihat kesempatan penjualan karbon atau carbon trading untuk para pelaku usaha bisnis pertambangan.

"Tapi ini baru step pertama, step berikutnya secara mind set. Jadi ini per step dan 2-3 tahun ke depan akan ada transformasi industri besar dan menjadi negara yang bisa zero carbon emision," ujarnya.