Alasan Ridwan Kamil Ngotot Buka Kegiatan Ekonomi di Jawa Barat

Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah membuka kembali aktivitas perekonomiannya meski pandemi COVID-19 belum mereda. Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan, pihaknya melakukan pembukaan kembali aktivitas ekonomi sebab tingkat keterpaparan COVID-19 di Jawa Barat tercatat sebesar 4,3 persen.
Menurut Ridwan, berdasarkan data WHO, jika tingkat keterpaparan COVID-19 di suatu wilayah di bawah 5 persen selama 3 minggu berturut-turut maka wilayah tersebut masuk kategori terkendali.
“Itulah kenapa kita buka ekonomi kita di awal Juni secara bertahap,” ungkap Ridwan Kamil pada Webinar DBS Asian Insights Conference Navigating a brave new world, Kamis (16/7).
Selain itu pembukaan ekonomi dilakukan karena jumlah masyarakat Jawa Barat yang mengalami kesulitan ekonomi tercatat semakin meningkat.
Sebelum pandemi, sebesar 25 persen dari total jumlah penduduk di Jawa Barat tercatat sebagai penerima bantuan. Namun setelah pandemi, jumlah penerima bantuan naik drastis menjadi 63 persen dari total jumlah penduduk di Jawa Barat.
Ridwan mengatakan, pembukaan ekonomi diawali dengan memilah wilayah Jawa Barat ke dalam lima rating yaitu hitam untuk kondisi kritis, merah untuk kondisi berat, kuning untuk kondisi cukup berat, biru untuk kondisi sudah cukup baik dan hijau untuk wilayah dengan kondisi baik.
“Di wilayah hitam kami buka ekonomi 10 persen hanya untuk esensial bisnis. Wilayah merah 30 persen, kuning 60 persen ekonomi boleh dibuka. Kemudian biru sudah 90 persen kecuali pendidikan dan hijau 100 persen seperti dulu. Alhamdulillah sekarang 80 persen wilayah Jawa Barat ekonomi sudah dibuka kembali,” ujarnya.
Ridwan pun mengklaim bahwa pembukaan ekonomi ini dilakukan dengan tetap mentaati protokol kesehatan. Menurut Ridwan, mengutip hasil kajian yang dilakukan Universitas Padjadjaran, jika pihaknya tidak melakukan tindakan recovery ekonomi sembari melawan pandemi, maka pertumbuhan ekonomi Jawa Barat pada akhir tahun diprediksi akan minus.
Jika hal tersebut terjadi maka Jawa Barat akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk rebound. Sebaliknya, jika penanganan COVID-19 dibarengi dengan recovery ekonomi, maka pertumbuhan ekonomi masih bisa terjaga di posisi positif.
Oleh karena itu, Ridwan optimistis dengan dibukanya kembali ekonomi, maka pertumbuhan ekonomi Jawa Barat diprediksi bisa berada di kisaran 2 sampai 3 persen pada akhir 2020.
“Atau diambil sebuah tindakan secara baik maka kita optimistis sampai akhir Desember pertumbuhan ekonomi Jawa Barat bisa positif minimal 2-3 persen. Dan 2021 ke 9 persen karena ada euforia dan kemudian normal lagi di 5 persen di tahun-tahun berikutnya,” ujarnya.
