Aldino yang Tak Lagi Belajar Membaca Ditemani Lampu Pelita

“Ambil buku kau belajar. Kau baca dulu,” teriak Soleman.
Mendengar panggilan itu, Aldino yang sedang bermain di halaman perlahan masuk ke dalam rumahnya di Sonraen, Kecamatan Amarasi Selatan, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Ia langsung mencari buku pelajaran yang biasa dibawa ke sekolah.
Tidak sampai satu menit, anak kelas 4 SD itu ke ruang tamu membawa sebuah buku bacaan. Soleman yang tak lain adalah orang tua Aldino langsung menyalakan lampu pelita.
Ruang tamu yang tadinya gelap, mulai diterangi cahaya lampu yang menggunakan bahan bakar minyak tanah. Dalam sinar pelita, Aldino terlihat mendekatkan wajahnya ke buku yang akan dibaca. Ia terdengar mengeja dengan pelan.
“Kau kasih suara,” teriak Soleman yang menginginkan agar Aldino membaca lebih keras. Namun, tetap saja, suara Aldino masih terdengar pelan dengan wajah yang semakin didekatkan dengan buku.
Peristiwa tersebut selama ini dialami Aldino dalam proses belajarnya di rumah. Gelapnya malam dan redupnya pelita menjadi sahabatnya setiap malam.
“Mata perih,” ujar Aldino menceritakan pengalamannya belajar dalam kegelapan. Ia terpaksa belajar dalam keadaan tersebut sebelum listrik masuk ke rumahnya.
Seiring berjalannya waktu, pengalaman kurang mengenakkan itu sudah mulai ditinggalkan Aldino. Saat malam hari, Aldino sudah bisa belajar dengan tenang karena sambungan listrik sudah masuk ke rumahnya.
Keluarga Aldino menerima sambungan listrik gratis dari program Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL). Sambungan listrik gratis bagi rumah tangga tak mampu merupakan program dari Badan Usaha Sektor ESDM, KESDM Peduli (pegawai KESDM), Corporate Social Responsibility (CSR) PT. PLN (Persero), One Man One Hope PLN, sinergi BUMN dan Pemda, untuk membantu biaya penyambungan listrik.
Aldino mengaku gembira saat rumahnya terang benderang di malam hari. “Senang,” ujar Aldino seraya tersenyum.
Aldino merasa dengan adanya listrik bisa membuatnya terus semangat belajar. Ia mengungkapkan cita-citanya adalah menjadi pemain sepak bola profesional. “Jadi pemain bola,” ungkap Aldino sambil malu-malu.
Sementara itu, Soleman tidak bisa menampik adanya listrik membantu kehidupannya. Soleman yang sehari-hari bekerja sebagai petani bisa menghemat pengeluarannya saat ada listrik.
Sebelum ada listrik, Soleman harus membeli minyak tanah yang menghabiskan Rp 70.000 sampai Rp 100.000. Sedangkan saat listrik masuk, ia bisa merogoh kocek di bawah Rp 50.000 per bulan.
“Kurang tahu pasti. Isi pulsa Rp 50.000 sebulan tidak habis, cukup,” ungkap Soleman.
Istri dari Soleman, Dominica juga menyambut baik masuknya listrik di rumahnya. Sebab, ia bisa menjalankan pekerjaannya membuat kain tenun saat malam hari. Namun, ia menegaskan yang lebih penting adalah Aldino bisa belajar dengan baik.
"Anak kami bisa belajar di malam hari adalah hal yang sangat kami syukuri, sebelumnya ketika pakai pelita, anak-anak mengeluh sakit mata karena terkena asap pelita,” tutur Dominica.
NTT menjadi salah satu wilayah yang mendapatkan program sambungan listrik gratis, termasuk di Desa Sonraen. Desa ini lokasinya bisa ditempuh dengan perjalanan darat selama satu jam lebih dari Bandara Internasional El Tari Kupang.
Untuk mencapai desa harus melewati jalanan naik turun yang belum semuanya diaspal rapi. Masih ada jalan berbatu dan hutan lebat yang harus dilalui. Hanya saja, perjalanan menuju Desa Sonraen menyajikan pemandangan alam yang bisa dilihat di sisi kanan dan kiri jalan.
