Kumparan Logo

Anak Buah Luhut Sebut Kini Tak Hanya China Tertarik Danai Proyek Smelter RI

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi tambang nikel. Foto: REUTERS/Yusuf Ahmad
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi tambang nikel. Foto: REUTERS/Yusuf Ahmad

Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) mengatakan proyek fasilitas pemurnian atau smelter Indonesia saat ini sudah menarik banyak pendanaan, tidak lagi hanya dari China.

Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan, Septian Hario Seto, menuturkan pembangunan satu proyek smelter rata-rata menghabiskan investasi lebih dari USD 1 miliar atau sekitar Rp 14,8 triliun.

"Tidak hanya ekuitas yang diperlukan tetapi perlu pinjaman bank, di awal-awal banyak sekali dukungan dari lembaga keuangan internasional terutama dari Tiongkok untuk memberi pendanaan proyek hilirisasi di Indonesia," jelasnya saat Forum Merdeka Barat 9, Senin (12/6).

Seto mengakui, pengembangan industri hilirisasi nikel seperti besi dan baja sudah sangat pesat, walaupun investornya sebagian besar adalah asing. Kondisi ini, menurut dia, mampu mendorong defisit neraca perdagangan sektor baja anti karat semakin membaik.

Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan, Kementerian Koordinasi Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves), Septian Hario Seto, saat ditemui di Shangri-La Hotel Jakarta, Selasa (30/5/2023). Foto: Akbar Maulana/kumparan

"Dari carbon steel juga tumbuh di Indonesia, yang jadi PR menurut saya integrasi ke arah hilir yang lebih lanjut untuk stainless steel untuk aplikasinya, seperti jarum suntik, sendok, garpu atau beberapa special steel untuk precision manufacturing," tuturnya

Seto melanjutkan, beberapa bulan terakhir bank-bank di dalam negeri sudah aktif dalam pembiayaan proyek smelter dengan porsi pendanaan 30 persen ekuitas 70 persen pinjaman bank.

Meskipun begitu, lanjut dia, bank nasional yang memiliki kemampuan untuk pembiayaan proyek hilirisasi dengan kebutuhan dana jumbo tersebut paling hanya 4-5 bank saja.

"Bahkan sekarang saya lihat bank-bank Singapura juga cukup agresif dalam pembiayaan proyek-proyek hilirisasi di indonesia," ungkap dia.

Seto menjelaskan, biasanya perusahaan lokal yang terlibat proyek hilirisasi mineral sudah memiliki kemitraan atau hubungan dengan perbankan domestik atau Singapura yang sangat baik, sehingga tidak terlalu memerlukan campur tangan pemerintah.

"So far mereka tidak terlalu membutuhkan peran pemerintah dalam hal ini, yang perlu kita lakukan ini edukasi ke sektor perbankan ya pengetahuan soal industrinya sehingga mereka bisa lebih capable dalam memberi pinjaman," pungkasnya.