Kumparan Logo

Arcandra Tahar Bicara soal Tren Kebangkrutan Perusahaan Hulu Migas

kumparanBISNISverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Mantan Wakil Menteri ESDM, Arcandra Tahar terlihat di Kementerian ESDM, Selasa (22/10/2019). Foto: Ema Fitriyani/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Mantan Wakil Menteri ESDM, Arcandra Tahar terlihat di Kementerian ESDM, Selasa (22/10/2019). Foto: Ema Fitriyani/kumparan

Mantan Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar angkat bicara soal banyaknya perusahaan migas dunia yang mengalami kerugian besar di tengah pandemi COVID-19. Pertumbuhan ekonomi yang minus di berbagai negara memang membuat konsumsi energi secara global ikut terkoreksi.

Mengutip data Haynes And Boone, sebuah firma hukum yang memonitor kebangkrutan perusahaan migas di Amerika Utara, Arcandra mengungkapkan adanya tren peningkatan perusahaan migas yang mengajukan kebangkrutan. Sejak awal tahun sampai 31 Juli 2020 sudah ada sebanyak 32 perusahaan minyak (Exploration and Production Companies) di Amerika Utara yang mengajukan kebangkrutan (bankruptcy filing).

Kebangkrutan terbanyak terjadi pada kuartal II 2020, sebanyak 18 perusahaan dan di kuartal III ini terdapat 9 perusahaan yang menutup bisnisnya. Data tersebut menggambarkan bahwa penurunan harga minyak dunia sejak akhir kuartal I 2020 dan sebaran COVID-19 yang terus meluas pada periode yang sama, telah menjatuhkan bisnis energi dunia.

"Jika ditarik ke belakang, sesungguhnya kebangkrutan perusahaan migas jauh lebih besar. Dari data Haynes And Boone diketahui, sejak kuartal I 2015 sampai kuartal III-2020 (31 Juli), terdapat sekitar 240 perusahaan yang mengajukan kebangkrutan dengan total utang sekitar USD 171 miliar. Di mana dari angka tersebut, sekitar USD 49 miliar merupakan akumulasi dari kebangkrutan di tahun 2020," ujar Arcandra seperti dikutip dari akun Facebook resminya, Rabu (9/9).

Petugas mengoperasikan Rig CBM di Muara Enim. Foto: ANTARA/Nova Wahyudi

Mencermati perkembangan ekonomi global yang diprediksi belum bisa pulih dalam waktu dekat, lanjut Arcandra, sektor migas di seluruh dunia masih akan terus mengalami tekanan. Dalam situasi ini setiap perusahaan akan dituntut untuk mengatur kembali strateginya, mendorong efisiensi dan mengoptimalkan potensi pasar yang ada.

Sebagai contoh, dalam aspek investasi. Menurut Arcandra dalam situasi sekarang, tentu akan banyak blok migas di seluruh dunia yang ditawarkan untuk dijual, terutama blok migas yang masih dalam tahap eksplorasi atau yang berproduksi dengan ongkos lebih mahal. Perusahaan migas akan fokus untuk mengelola proyek yang sedang berjalan walaupun dengan margin yang tipis. Harapannya kelak harga minyak akan kembali membaik.

"Untuk itu, bagi perusahaan yang akan melakukan investasi di hulu migas, tentu harus menghitung dengan cermat potensi produksi, cadangan, asumsi harga crude ke depan dan aturan fiskal dan perpajakan di negara di mana blok itu berada. Rencana investasi harus dilakukan dengan mengedepankan aspek teknologi dan komersial, bukan sekadar mendorong keluarnya angka-angka investasi yang fantastis," paparnya.

kumparan post embed

Tantangan industri migas ke depan juga sangat dipengaruhi oleh sumber daya manusia (SDM). Banyak perusahaan migas global yang saat ini menjadi pemimpin pasar, seperti Shell, ExxonMobil, Chevron dan lainnya, terus berusaha memproduksi talenta-talenta terbaiknya untuk mendukung eksistensi dan ekspansi perusahaan di masa depan.

"Dukungan SDM yang memahami sektor migas secara menyeluruh, baik dari aspek teknologi, komersial, dan geopolitik minyak dunia, sesungguhnya menjadi bagian dari mitigasi dan pengelolaan risiko di perusahaan migas," tutupnya.

facebook embed