Kumparan Logo

Bahlil Rayu Investor Australia Kolaborasi di Sektor Hilirisasi Nikel

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Rayu Investor Australia untuk Kolaborasi, Menteri Investasi Teguhkan Komitmen Indonesia dalam Mendorong Hilirisasi.  Foto: Dok. Kementerian Investasi/BKPM
zoom-in-whitePerbesar
Rayu Investor Australia untuk Kolaborasi, Menteri Investasi Teguhkan Komitmen Indonesia dalam Mendorong Hilirisasi. Foto: Dok. Kementerian Investasi/BKPM

Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia, menyerukan komitmen Indonesia dalam mendorong hilirisasi di depan investor Australia pada acara Indonesia-Australia Business Summit (IABS) 2024 yang digelar di Melbourne, Australia Senin pagi (13/5).

Selain tawaran kolaborasi, Bahlil menegaskan, Pemerintah Indonesia memiliki komitmen kuat untuk mendorong transisi menuju pembangunan berkelanjutan. Menurutnya, hubungan diplomatik antara Indonesia dan Australia sudah sangat baik.

Namun dari sisi investasi, potensi kerja sama antara kedua negara belum maksimal. Sebagai negara terdekat, realisasi investasi Australia di Indonesia dalam kurun 5 tahun terakhir, tahun 2019 – 2024, baru sebesar USD 1,96 miliar.

Menurut Bahlil, Indonesia dan Australia bisa berkolaborasi dalam pengembangan industri baterai mobil listrik. Kedua negara sama-sama memiliki komoditas nikel, Indonesia juga memiliki kobalt dan mangan, hanya lithium saja yang tidak ada dan itu dimiliki Australia.

“Saya yakin hubungan Indonesia dan Australia bisa dipererat lagi. Dalam konteks investasi, jujur kami katakan belum maksimal. Ini tugas kita bersama. Jika kedua negara bisa berkolaborasi, ini akan menjadi kekuatan baru dalam industri baterai mobil listrik,” kata Bahlil dikutip, Selasa (14/5).

Rayu Investor Australia untuk Kolaborasi, Menteri Investasi Teguhkan Komitmen Indonesia dalam Mendorong Hilirisasi. Foto: Dok. Kementerian Investasi/BKPM

Bahlil kembali menekankan fokus pemerintah saat ini pada sektor hilirisasi. Indonesia tidak lagi mengekspor komoditas mentahnya untuk diproses di luar negeri, melainkan harus di tanah air. Program ini telah dilakukan pemerintah secara bertahap sejak pemerintahan Presiden Joko Widodo. Komoditas pertama yang dilarang ekspornya adalah nikel di tahun 2020 dan hasilnya telah dirasakan saat ini.

Tahun 2017 ekspor produk turunan nikel hanya sebesar USD 3,3 miliar, di tahun 2022 meningkat 10 kali lipat hingga USD 33,8 miliar. Tentu hal ini tidak mudah karena mendapat tantangan dari negara lain yang merasa dirugikan.

“Kami sudah memulai (hilirisasi), ibarat pesawat kami sudah take off. Tidak ada satu negara pun yang dapat memerintahkan kita untuk mundur. Kami akan jalan terus seiring berjalan waktu dan dinamika global,” tegasnya.

Rayu Investor Australia untuk Kolaborasi, Menteri Investasi Teguhkan Komitmen Indonesia dalam Mendorong Hilirisasi. Foto: Dok. Kementerian Investasi/BKPM

Selain itu, Bahlil juga menegaskan bahwa hilirisasi yang dilakukan oleh Indonesia telah memperhatikan aspek lingkungan dan dapat menjadi contoh bagi negara lainnya. Bahkan, Menteri Investasi juga mengajak investor untuk datang ke kawasan industri Weda Bay di Maluku Utara untuk melihat langsung kawasan industri yang ramah lingkungan.

Berdasarkan data Kementerian Investasi/BKPM dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, yaitu sejak tahun 2019 – 2024, total realisasi investasi Australia di Indonesia mencapai USD 1,96 miliar. Selama periode tahun 2023, Australia menempati peringkat ke-10 sebagai sumber penanaman modal asing (PMA) terbesar bagi Indonesia dengan realisasi investasi mencapai USD 0,5 miliar.

Demikian pula pada periode triwulan I tahun 2024, Australia masih berada di peringkat ke-10 dengan realisasi investasi sebesar USD 172,3 juta. Tiga sektor utama penyumbang realisasi investasi terbesar asal Australia yaitu pertambangan (65,4 persen), hotel dan restoran (7,6 persen) dan Jasa Lainnya (6,4 persen).