Kumparan Logo

Bank Indonesia Beri Sinyal Naikkan Suku Bunga Acuan di Akhir 2022

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. Foto: Dok. Departemen Komunikasi Bank Indonesia.
zoom-in-whitePerbesar
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. Foto: Dok. Departemen Komunikasi Bank Indonesia.

Bank Indonesia (BI) mulai memberikan sinyal soal kenaikan suku bunga acuan atau BI 7 Days Reverse Repo Rate, seiring dengan mulai pulihnya perekonomian nasional. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan bank sentral rencananya akan mulai menaikkan suku bunga acuan pada akhir 2022.

“Kenaikan suku bunga baru kami lakukan di penghujung akhir tahun depan,” ujar Perry dalam Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR RI, Senin (30/8).

kumparan post embed

Adapun sepanjang 2020 suku bunga acuan telah diturunkan enam kali sebesar 150 basis poin menjadi 3,5 persen. Level tersebut masih dipertahankan bank sentral hingga saat ini dan menjadi suku bunga acuan terendah sepanjang sejarah.

Selain memberikan sinyal kenaikan suku bunga acuan, Perry juga menyatakan bahwa mulai tahun depan pihaknya akan kembali mengetatkan likuiditas yang selama ini sangat longgar. “Kami rencananya akan mengurangi likuiditas yang sangat longgar,” ujarnya.

Meski demikian, Perry memastikan hal tersebut tidak akan berdampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi dan penyaluran kredit.

Adapun BI tercatat telah menyuntikkan likuiditas atau melakukan Quantitative Easing (QE) kepada perbankan sebesar Rp 844,4 triliun atau setara dengan 5,3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), terhitung sejak 2020 sampai 27 Agustus 2021.

“Dengan demikian, kami yakin pengurangan injeksi likuiditas pada tahun depan tidak akan mengurangi pertumbuhan ekonomi dan penyaluran kredit,” jelas Perry.

Di sisi lain Perry memastikan kebijakan makroprudensial, sistem pembayaran, pendalaman pasar dan inklusi keuangan pada 2022 akan tetap diarahkan untuk pertumbuhan ekonomi.

"Koordinasi antara pemerintah, BI, dan KSSK (Komite Stabilitas Sistem Keuangan) terus kita lakukan kebijakan-kebijakan kami apakah di moneter, makroprudensial, sistem pembayaran, pendalaman pasar maupun inklusi ekonomi termasuk UMKM dan ekonomi syariah itu bersama-sama mendukung pertumbuhan ekonomi dengan tetap memperhatikan stabilitas,” tandasnya.

kumparan post embed