Bappenas Target Pertumbuhan Ekonomi Capai 7,5 Persen pada 2027
·waktu baca 3 menit

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2027 berada di kisaran 5,9 persen hingga 7,5 persen.
Target hingga 7,5 persen dipasang untuk mendorong RI keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap) yang telah berlangsung selama lebih dari tiga dekade.
Rachmat mengatakan, Indonesia membutuhkan pertumbuhan ekonomi tinggi agar mampu naik kelas menjadi negara berpendapatan tinggi. Hingga 2024, pendapatan per kapita Indonesia baru mencapai USD 4.910, masih jauh di bawah ambang negara berpendapatan tinggi sebesar USD 13.935.
“Mengapa Indonesia perlu tumbuh tinggi? Karena Indonesia sudah 33 tahun terjebak di dalam middle income trap dan sejak tahun 1993 kita masuk kategori middle income country,” ujar Rachmat pada acara Rakorbangpus Dalam Rangka Penyusunan RKP 2027, Kamis (7/5).
Kata dia, target pertumbuhan ekonomi nasional takkan tercapai jika hanya mengandalkan pusat ekonomi di Pulau Jawa atau Jakarta.
“Kita perlu tumbuh dan tumbuh ini tidak hanya di Jakarta tapi tumbuh di setiap daerah dan dalam catatan kami pertumbuhan nasional 5,9% sampai 7,5% tidak bisa dicapai tanpa dukungan daerah,” katanya.
Dalam rancangan pembangunan wilayah RKP 2027, pemerintah menyiapkan strategi pembangunan berbasis potensi masing-masing kawasan. Kawasan Barat Indonesia diproyeksikan tumbuh 5,8 persen hingga 7,3 persen dengan kontribusi terhadap PDB nasional sebesar 78,7 persen.
Sementara Kawasan Timur Indonesia ditargetkan tumbuh lebih tinggi, yakni 6,5 persen hingga 8,3 persen dengan kontribusi PDB sebesar 21,3 persen.
Secara rinci, Pulau Jawa masih menjadi penopang utama ekonomi nasional dengan kontribusi PDRB mencapai 56,5 persen dan target pertumbuhan 5,9 persen hingga 7,5 persen. Pemerintah mengarahkan Jawa sebagai megapolitan yang unggul, inovatif, inklusif, terintegrasi, dan berkelanjutan.
Sementara Sumatera diproyeksikan tumbuh 5,4 persen hingga 6,8 persen dengan kontribusi PDRB sebesar 22,2 persen. Kawasan ini akan difokuskan sebagai mata rantai utama bioindustri dan kemaritiman yang berdaya saing.
Kalimantan ditargetkan tumbuh 5,7 persen hingga 7,2 persen dengan kontribusi PDRB 8,2 persen dan diposisikan sebagai superhub ekonomi Nusantara.
Adapun Sulawesi diproyeksikan tumbuh 6,8 persen hingga 8,7 persen dengan kontribusi PDRB 7,4 persen sebagai pusat industri berbasis sumber daya alam.
Untuk Bali dan Nusa Tenggara, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 5,5 persen hingga 7,2 persen dengan kontribusi PDRB sebesar 2,9 persen. Kawasan tersebut diproyeksikan menjadi superhub pariwisata dan ekonomi kreatif bertaraf internasional.
Papua diperkirakan tumbuh 5,1 persen hingga 6,9 persen dengan kontribusi PDRB 1,9 persen melalui percepatan pembangunan wilayah yang sehat, cerdas, dan produktif.
Maluku jadi daerah dengan target pertumbuhan tertinggi, yakni 17,6 persen hingga 19,9 persen, meski kontribusi PDRB masih sekitar 0,9 persen. Wilayah ini diarahkan menjadi hub kemaritiman Indonesia timur.
Rachmat melanjutkan, pembangunan nasional ke depan tak bisa hanya mengandalkan APBN. Pemerintah juga bakal mendorong pembiayaan non-APBN termasuk investasi lewat Danantara untuk mempercepat pembangunan di daerah.
“Danantara juga harus kita dorong secara aktif agar kapasitas bangunan kita tidak terbatas oleh fiskal semata dengan sinergi seluruh bangku kepentingan akselerasi pertumbuhan berkualitas akan terus bisa kita capai,” ujarnya.
