Baru 4 Smelter Nikel Masuk Hilirisasi untuk Baterai Kendaraan Listrik di RI
ยทwaktu baca 2 menit

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melaporkan dari total 34 fasilitas pengolahan mineral atau smelter nikel yang beroperasi di Indonesia, baru 4 smelter yang memproduksi bahan baku kendaraan listrik (electric vehicle/EV).
Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE), Taufik Bawazier, menuturkan keempat smelter tersebut menggunakan metode hidrometalurgi dengan pendekatan HPAL yang menghasilkan mixed hydroxide precipitate (MHP).
"Ada 3 perusahaan yang beroperasi, konstruksi belum ada, dan FS (feasibility studi) ada 1. Ini kapasitas nasional 950.000 ton yang bisa dimanfaatkan paling tidak setelah pabrik baterai kita cukup kuat, bisa suplai bahan baku nasional ke dalam ekosistem EV di dalam negeri," jelasnya saat RDP Komisi VII DPR, Kamis (8/6).
Keempat perusahaan smelter tersebut yakni PT Huayue Nickel Cobalt dengan produksi MHP 400 ribu ton per tahun, PT QMB New Energy Material dengan produksi 150 ribu ton per tahun.
Kemudian PT Halmahera Persada Lygend dengan produksi MHP sebesar 365 ribu ton per tahun, dan PT Kolaka Nickel Indonesia dengan produksi 120 ribu ton per tahun.
Sementara itu, lanjut Taufiek, sudah ada 34 perusahaan smelter nikel yang beroperasi di Indonesia dengan metode pirometalurgi yang menghasilkan produk nickel pig iron (NPI), feronikel, dan nickel matte.
Kemudian 17 smelter nikel pirometalurgi yang masih konstruksi dan 6 masih dalam feasibility study. Smelter tersebut tersebar di Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Banten, dan Kalimantan Selatan.
"Kita butuhkan karena nikel strategis terutama hilirisasi baik untuk peralatan dapur yang untuk rumah tangga, kompor gas, mesin pendingin, perlu produk-produk turunan nikel ini yang perlu dibangun di dalam negeri," jelas Taufiek.
Sejauh ini, Taufiek mengungkapkan ekspor produk hilirisasi bijih nikel Indonesia masih didominasi oleh feronikel dengan kuantitas 5,7 juta ton dengan nilai USD 13 miliar.
Kemudian nilai ekspor produk nikel stainless steel slab, HRC, dan CRC secara akumulatif hanya USD 4 miliar. Dia menilai pemerintah harus bisa mengarahkan industri untuk terus meningkatkan nilai tambah ekspor yang membutuhkan investasi besar.
"Artinya didominasi oleh yang belum sampai ke tingkat yang lebih hilir," kata Taufiek.
