Kumparan Logo

BCA Pastikan Tak Ada Dampak Rating Moody's ke Kinerja Kredit Perseroan

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Executive Vice President (EVP) Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn di Hotel Kempinski, Jakarta Pusat, Rabu (11/2/2026).
 Foto: Widya Islamiati/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Executive Vice President (EVP) Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn di Hotel Kempinski, Jakarta Pusat, Rabu (11/2/2026). Foto: Widya Islamiati/kumparan

PT Bank Central Asia Tbk (BCA) memastikan rating Moody's tidak berdampak terhadap kinerja kredit bank yang dipimpin oleh Hendra Lembong tersebut.

Executive Vice President (EVP) Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan tidak berdampaknya penilaian Moody's terhadap kinerja kredit bisa dilihat berbagai kinerja keuangan BCA saat ini.

“Tidak (rating Moody's berdampak ke kredit BCA). Jadi bisa lihat bagaimana NPL (Nonperforming Loan) kita sangat terjaga, kemudian bisnis kita juga berjalan dengan sangat baik, bottom line kita juga positif, dan relasi kita juga tetap baik,” kata Hera di Hotel Kempinski, Jakarta Pusat, Rabu (11/2).

BCA mencatat pertumbuhan total penyaluran kredit sebesar 7,7 persen (yoy) menjadi Rp 993 triliun per Desember 2025. Secara rata-rata, pertumbuhan kredit BCA mencapai 10,8 persen sepanjang 2025.

Rasio NPL perusahaan juga terkendali di level 1,7 persen. Kualitas kredit BCA juga masih terjaga, tercermin dari rasio loan at risk (LAR) yang membaik ke 4,8 persen dibandingkan 5,3 persen pada tahun sebelumnya.

“Jadi kami tidak merasakan ada efek apa pun, dan kami akan tetap menjaga itu dalam track yang memang saat ini sudah kami jaga, kami prudence, dan kami comply dengan apa pun yang memang menjadi salah satu basis persyaratan memberikan kredit yang berkualitas aman dan tentu nyaman untuk para debitur kami,” jelas Hera.

kumparan post embed

Hera mengatakan, seluruh kredit yang disalurkan perseroan telah melalui proses yang mengedepankan prinsip kehati-hatian atau prudential banking. Dia menilai tidak ada alasan untuk munculnya kekhawatiran berlebihan terkait kualitas penyaluran kredit tersebut.

“Kekhawatiran berlebihan menurut saya tidak dibutuhkan dalam hal ini, dan kami tetap akan menjaga bahwa postur Loan Growth kami berada pada proses yang sehat dan bisa kami pertanggung jawabkan prudence dan comply,” tutup Hera.

Sebelumnya, Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto meminta 5 bank besar yang mengalami penurunan outlook kredit menjadi negatif untuk memberikan penjelasan kepada lembaga pemeringkat global, Moody’s Ratings.

Moody's memangkas outlook kredit Indonesia dari Stabil menjadi Negatif. Lembaga tersebut kemudian merevisi outlook kredit PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Central Asia Tbk, dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk menjadi negatif.

Analis Moody’s Clarabelle Tan menyatakan outlook negatif pada peringkat kredit Indonesia (Baa2) mencerminkan meningkatnya risiko terhadap kredibilitas kebijakan. Jika berlanjut, hal ini dapat menggerus kredibilitas yang selama ini menopang pertumbuhan ekonomi serta stabilitas makro, fiskal, dan keuangan.

Meski begitu, peringkat Indonesia tetap ditopang ketahanan ekonomi, didukung sumber daya alam dan demografi yang kuat sehingga menjaga pertumbuhan PDB tetap stabil.

Jika peringkat sovereign diturunkan, peringkat lima bank besar Indonesia juga akan terdampak. Mandiri, BRI, dan BCA akan mengalami penurunan BCA dan Adjusted BCA, sedangkan BNI dan BTN terutama terdampak berkurangnya dukungan pemerintah. CRR dan CRA sejumlah bank tersebut juga berpotensi turun.