Beras Bansos Rusak Dihantam Ombak, Pos Indonesia dan Bulog Kirim Penggantian
ยทwaktu baca 2 menit

Kapal yang mengangkut bantuan sosial atau bansos beras (BSB) untuk diserahkan kepada keluarga penerima manfaat (KPM) di Kecamatan Teluk Kaiely, Kabupaten Buru, Maluku, tenggelam akibat diterjang ombak pada awal Agustus 2021.
Semua beras beras basah karena kantung dijahit menggunakan jahitan biasa, bukan jahitan press. Sehingga, sebanyak 369 karung beras atau setara 3.690 kilogram (kg) rusak.
Dalam keterangan tertulis, Jumat (6/8), PT Pos Indonesia (Persero) dan Perum Bulog langsung bergerak cepat melakukan penggantian. Kepala Regional 6 Pos Indonesia, Istiqomah Syariah, mengatakan peristiwa itu terjadi pada Minggu (1/8). Dua kapal speed boat yang mengangkut beras berangkat dari Desa Namlea.
"Cuaca saat berangkat dari Desa Namlea masih bagus. Ketika kapal mau sandar di Desa Kaki Air, gelombang sudah tinggi dan angin kencang yang mengakibatkan kapal tersebut karam," kata Istiqomah.
Bansos beras tersebut rencananya akan disalurkan bersamaan dengan bantuan sosial tunai (BST) di 5 desa di Kecamatan Teluk Kaiely yang akan disalurkan pada Kamis, 5 Agustus 2021.
"Beruntung, koordinasi antara Pos Indonesia dengan Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog), selaku penyedia BSB berjalan lancar. Bersama kantor kecamatan juga, ratusan beras yang rusak tersebut kini sudah diganti," jelasnya.
Menurut Istiqomah, beras yang baru sudah didistribusikan sejak 3 Agustus lalu, kembali menggunakan menggunakan kapal feri dengan tujuan Desa Kaili. Selanjutnya, beras akan dipisah dan dilanjutkan dengan kapal kecil menuju titik penyaluran.
Regional 6 membawahi wilayah Sulawesi, Maluku, Papua, Papua Barat, dan Kalimantan. Hingga 3 Agustus, alokasi bansos beras untuk keenam wilayah itu sebanyak 898.849 KPM.
"Yang sudah menerima BSB sebanyak 368.412 KPM atau 40,99 persen. Masing-masing KPM mendapatkan beras 10 kg. Pos Indonesia menyalurkan BSB bersamaan dengan BST," kata dia.
Dia melanjutkan, agar KPM bisa menerima bansos beras dan BST, para KPM harus sudah terdaftar dalam Daftar Nominatif (Danom). Juru bayar/salur akan mencocokan KTP dan KK penerima. Jika ada nama KPM dalam Danom, maka KPM berhak menerima BSB dan BST.
"KPM menandatangani Danom, kemudian KPM difoto menggunakan aplikasi PGC (Pos Giro Cash) yang datanya tercatat pada sistem kami secara real-time," jelasnya.
Sementara itu, penyaluran BST hingga saat ini sudah tersalurkan kepada 749.457 KPM, atau 70.34 persen dari total alokasi penerima 1.065.428 KPM. Menurutnya, dalam proses penyaluran BSB dan BST, tantangan dan hambatan kerap terjadi mengingat wilayah regional 6 memiliki kondisi geografis yang menantang.
Misalnya, di wilayah Kabupaten Buru, Buru Selatan, dan Kabupaten Seram bagian timur. Ombak besar menjadi tantangan besar bagi para pelaku juru bayar. Ketinggian ombak bisa mencapai 2,5 hingga empat meter.
Khusus di Buru Selatan, setelah tiba dengan kapal speed boat, petugas juru bayar melanjutkan perjalanan dengan angkutan darat menuju kantor desa. Lalu diteruskan dengan berjalan kaki menuju titik pembayaran.
"Sedangkan di Tarakan wilayah Krayan menggunakan pesawat Angkatan Udara (AU) yang bisa mengangkut dengan waktu tunggu (waiting list) yang tidak menentu," pungkasnya.
