Kumparan Logo

Berawal dari 'Pelengkap Bakmi', Sambal Makassar Ini Malah Jadi Komoditas Ekspor

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
UMKM sambal asal Makassar, Simpati Lombok Kuning. Foto: kumparan/Fhandra Hardiyon
zoom-in-whitePerbesar
UMKM sambal asal Makassar, Simpati Lombok Kuning. Foto: kumparan/Fhandra Hardiyon

Siapa yang tidak suka sambal sebagai teman makan berkuah? Bagi masyarakat Indonesia, menyantap hidangan hangat seperti bakmi rasanya belum lengkap tanpa sensasi pedas menggugah selera yang menggigit di lidah.

Hal itulah yang mula-mula dirasakan para pelanggan usaha bakmi milik Ridwan Wahyudi Chandra yang semula dinamainya Simpati, di Makassar, Sulawesi Selatan.

Menariknya, sambal pelengkap beraroma bawang putih dengan perpaduan rasa pedas, asin, dan gurih alami tersebut justru mencuri perhatian.

Racikan cabai rawit yang berasal dari resep turun-temurun keluarganya itu membuat banyak orang ketagihan, hingga akhirnya memberanikan tumbuh menjadi produk sendiri: Simpati Lombok Kuning–nama yang menggabungkan kedai bakmi asalnya dengan sebutan nama lokal lombok (cabai) dan warna khasnya yang kuning alami.

Berawal dari sekadar pendamping bakmi, Simpati Lombok Kuning saat ini mengalami lompatan bisnis yang masif hingga mampu menembus pasar ekspor.

UMKM sambal asal Makassar, Simpati Lombok Kuning. Foto: kumparan/Fhandra Hardiyon

Produksinya yang dulu dilakukan secara manual kini telah merambah otomatisasi, mendongkrak kapasitas produksi cabai rawit dari 1,5 ton menjadi 2,5 hingga 2,8 ton per bulan. Angka itu setara dengan hampir 18.000 botol sambal yang siap dipasarkan setiap bulannya.

Hal ini merupakan buah manis dari masuknya Simpati Lombok Kuning sebagai usaha binaan Bank Indonesia (BI) selama dua tahun terakhir.

Co-founder Simpati Lombok Kuning, Melyana Khohari, mengatakan sebelum mendapat pendampingan BI, proses pengisian sambal ke dalam botol masih dilakukan secara manual. Penggunaan mesin otomatis membuat proses produksi lebih efisien dan meningkatkan kapasitas usaha.

“Jadi, omzet kami sebenarnya naik hampir 3 kali lipat setelah menjadi binaan BI,” kata Melyana, kepada wartawan di Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (22/10).

BI, kata Melyana, memberikan bantuan berupa mesin pengisi otomatis (filling). Selain bantuan peralatan, Simpati Lombok Kuning juga mendapat pendampingan untuk memperbaiki pengelolaan keuangan, memisahkan laporan keuangan dan laporan bisnis, serta mengembangkan pemasaran digital.

Perubahan paling mendasar yang dirasakannya bukan hanya soal materi, melainkan bagaimana pendampingan BI berhasil mengubah mindset-nya secara total—dari seorang pedagang biasa menjadi seorang pebisnis seperti sekarang.

Co-founder Simpati Lombok Kuning, Melyana Khohari. Foto: kumparan/Fhandra Hardiyon

Perubahan mindset ini bukan tanpa alasan, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan memang merancang program pembinaan UMKM secara intensif dan berkelanjutan dari hulu ke hilir.

Manfaat dari pendekatan menyeluruh itu pun dirasakan langsung oleh Melyana. Tak sekadar diajarkan merapikan pembukuan dan memisahkan keuangan pribadi dengan usaha, ia juga dibekali ilmu menghadapi era serba digital.

“Kami diajarkan melalui kelas digital, bagaimana memasarkan produk kami, bagaimana mengelola media sosial kami,” ujar Melyana.

Dari sisi pemasaran, produk Simpati Lombok Kuning kini telah masuk ke berbagai jaringan ritel di Makassar dan sejumlah daerah di Sulawesi Selatan. Melyana menyebut produknya juga telah menjangkau wilayah pelosok yang memiliki gerai Indomaret, Alfamart, dan Alfamidi. Di luar Sulawesi, produknya telah tersedia di supermarket Diamond di Jakarta.

Untuk pasar ekspor, Simpati Lombok Kuning telah mengirimkan produk ke Jepang dan Selandia Baru. Perusahaan juga tengah memperluas jangkauan pasar ke Singapura setelah mendapat fasilitasi dari BI.

Tidak berhenti di situ, Melyana tengah menyiapkan langkah berikutnya untuk memperluas jangkauan pasar mancanegara. Ke depan, Simpati Lombok Kuning berencana meluncurkan varian kemasan sachet. Inovasi ini dirancang agar produk lebih praktis, tahan lama, serta mempermudah proses distribusi dan logistik ekspor ke berbagai negara.

Pantai Losari dan Kubah Masjid 99. Foto: ibnusakdan/Shutterstock

Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Sulawesi Selatan, Rizki Ernadi Wimanda, menambahkan bahwa transformasi UMKM seperti yang dialami Simpati Lombok Kuning lahir dari program bertajuk REWAKO (Resilient, World Class, Agile, Knowledgeable).

Program pendampingan end-to-end yang digulirkan sejak 2022 ini kini telah memasuki angkatan ke-5, dengan total 215 UMKM yang masuk dalam ekosistem pembinaannya.

“Pembinaan yang kami berikan tidak hanya sebatas pelatihan instan, tetapi melalui tahapan seleksi, asesmen, peningkatan kapasitas, pendampingan, implementasi, hingga monitoring perkembangan usaha secara berkala. Melalui pola ini, kami memperkuat UMKM dari berbagai sisi—mulai dari mindset entrepreneur, kualitas produk, tata kelola keuangan, pemasaran, hingga pengelolaan SDM,” terangnya.