Bermula dari Pintu ke Pintu, Mardi Nasabah BRI Kini Punya 50 Pelanggan Tahu
·waktu baca 3 menit

Merintis usaha tahu dan mempunyai pelanggan tetap tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Setidaknya, kondisi itu yang pernah dialami Mardi, yang sehari-hari memproduksi tahu di Cipayung, Jakarta Timur.
Mardi sejak berusia 13 tahun sudah membantu orang tuanya memproduksi tahu. Bapak berusia 55 tahun tersebut lalu memilih menjalankan usaha tahu secara mandiri pada 1998.
"Saya berusaha dari 1998 mengerjakan sendiri, awal saya bikin 30 kg (kedelai) per hari, sekarang sudah produksi sampai 50 kg," kata Mardi di tempat produksi tahunya di Cipayung, Jakarta Timur, Jumat (8/3).
Tak hanya memproduksi, Mardi sekaligus belajar berdagang secara langsung saat itu. Ia menjajakan tahu produksinya ke tempat yang bisa dijangkau mulai dari rumah ke rumah, warung kopi (warkop) sampai tukang sayur. Lubang Buaya hingga Kampung Rambutan menjadi wilayah yang sering dilaluinya.
"Awal merintis kita bikin 30 kg keliling-keliling cari orderan, warung ke warung, pintu ke pintu, warkop, tukang sayur, tukang gorengan," ujar Mardi.
Di tengah upaya mengembangkan usahanya, Mardi harus menghadapi kesulitan karena keterbatasan modal. Ia memutar otak agar usahanya tetap jalan.
Mardi lalu berbicara dengan teman dan pelanggannya yang menyarankan agar menjadi nasabah PT Bank Rakyat Indonesia atau BRI. Pilihan itu akhirnya diambil Mardi dengan memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI.
"Jadi nasabah BRI dari 2011 itu KUR, dulu itu dulu ngambil awalnya Rp 30 juta. Sekarang Kupedes, sekarang saya ngambil sekarang Rp 25 juta baru Januari (2024) kemarin untuk modal," ungkap Mardi.
Kupedes merupakan kredit dengan bunga bersaing yang bersifat umum untuk semua sektor ekonomi. Layanan itu ditujukan untuk individual baik badan usaha maupun perorangan yang memenuhi persyaratan. Kredit tersebut bisa dilayani di seluruh BRI Unit dan Teras BRI
Setelah mendapatkan bantuan dari BRI, usaha yang dijalankan Mardi semakin meningkat dengan produksi mencapai 80 kg kedelai per hari. Ia pernah dibantu 2 pekerja untuk memproduksi tahu. Namun, setelah pandemi COVID-19, ia kini cukup dibantu 1 pekerja.
Mardi mengakui periode COVID-19 memang membuat usahanya bergejolak. Meski begitu, ia memastikan tidak kehilangan pelanggan yang selama ini dijaganya dengan baik.
"Ada pelanggan saya, pelanggan saya sudah tahu saya. Pelanggan tetap sejak sebelum COVID, tapi omzetnya turun, biasa (pelanggan) ngambil Rp 40 ribu jadi Rp 25 ribu. Jumlah pelanggan kurang lebih ada 50," ujar Mardi.
Mardi bersyukur dengan apa yang sudah dicapainya hingga saat ini. Omzetnya per hari sekarang rata-rata Rp 300.000. Tak ada masalah dengan pendapatan tersebut. Apalagi, kedua anaknya sudah bekerja dan berumah tangga.
Mardi tidak punya keinginan muluk-muluk di usia senjanya. Ia hanya ingin usahanya tetap berjalan seperti biasanya.
"Kita produksi saja, faktor U (umur), bertahan saja. (Cara bertahan) Ya kita usaha terus tanpa putus asa," tutur Mardi.
