BGN Ekspor Minyak Jelantah Sisa Dapur MBG, Maskapai Singapore Airlines Berminat
·waktu baca 2 menit

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana mengungkapkan minyak jelantah yang dihasilkan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) berpotensi besar untuk diekspor. Bahkan dengan nilai jual dua kali lipat di pasar luar negeri seperti Singapura.
Dadan menjelaskan, setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mengkonsumsi sekitar 800 liter minyak goreng per bulan, dan 70 persen di antaranya berubah menjadi minyak jelantah.
"Minyak jelantah tidak dibuang, ditampung oleh entrepreneur kemudian diekspor dengan harga dua kali lipat, salah satunya penggunanya Singapore Airline (SQ)," ujar Dadan dalam acara Konferensi Utama SDGs Bappenas, dikutip Kamis (20/11).
Menurut Dadan, maskapai seperti Singapore Airlines memanfaatkan minyak jelantah sebagai bagian dari komitmen mereka terhadap energi berkelanjutan.
"SQ ingin deklarasi sebagai salah satu maskapai berwawasan lingkungan, jadi 1 persen avturnya berbahan bio, salah satu bahan bio adalah cooking oil atau minyak jelantah," lanjutnya.
Dengan jumlah SPPG atau dapur MBG yang mencapai 30 ribu, potensi suplai minyak jelantah dari program MBG disebut sangat besar. Dadan mencontohkan jika 30 ribu SPPG masing-masing menghasilkan 550 liter minyak jelantah per bulan, maka totalnya mencapai jutaan liter yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku bioavtur.
"Dengan 30 ribu SPPG kali 550 liter, berapa juta liter per bulan yang bisa digunakan untuk bio avtur," ucap dia.
