Biang Kerok Dagangan Sepi, Masyarakat Pilih Travel Dibanding Jajan Makanan
ยทwaktu baca 3 menit

Pertumbuhan industri makanan dan minuman di semester I 2023 turun menjadi 4,6 persen dibanding kinerjanya di kuartal I 2023 yang mencapai 5,3 persen.
Ketua Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) Adhi S Lukman mengatakan tren tersebut selaras dengan data Bank Indonesia yang menyebut per Juli 2023, Penjualan Eceran turun (kontraksi) 4,6 persen dibandingkan Juni 2023.
BI mencatat, penjualan eceran yang tecermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Juli 2023 sebesar 212,7. Angka itu menurun dibandingkan Juni 2023, di mana IPR tercatat sebesar 222,9.
"Ini karena memang ada beberapa informasi survei yang mengatakan ada shifting pengeluaran konsumen yang biasanya prioritas makanan minuman, terutama lebaran kemarin, ternyata lebih banyak digunakan untuk biaya perjalanan, biaya travelling,"
Ketua Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) Adhi S Lukman saat ditemui di Pullman Jakarta Central Park, Senin (14/8).
Dirinya juga melihat adanya pengeluaran masyarakat yang bergeser pada keperluan sekolah mengingat masuknya tahun ajaran baru di bulan Agustus ini.
"Tapi saya lihat di bulan Juli akhir, pertengahan Juli, itu sudah mulai membaik. Saya dengar dari beberapa anggota, Agustus sudah lebih baik. Mudah-mudahan ini terus mengejar apalagi ini kan mulai ramai Oktober sampai Natari nanti," kata dia.
Bukan Pola Tahunan
Menariknya, tren penurunan ini hanya terjadi di tahun 2023 saja. Adhi mengaku tren kontraksi pertengahan tahun seperti saat ini tidak terjadi di tahun lalu.
"Karena menurut survei, mereka income-nya tetap tapi pengeluaran biaya perjalanan naik sehingga saat mudik kemarin mereka sudah ingin mudik yasudah mengurangu makanan yang secondary demi bisa mudik. Ini jadi salah satu alasan," jelas dia.
Tahun 2022 lalu, industri makanan dan minuman tetap tumbuh meskipun masih di bawah ekspektasi. Adhi menilai tren penurunan tahun ini disebabkan dua hal, pertama adalah adanya pergeseran pengeluaran masyarakat dan harga-harga produk dan jasa yang naik.
Sebelumnya viral di media sosial, curhat pedagang mengeluhkan jualan yang sepi. Hal itu dialami pedagang makanan dan minuman (Food and beverage/F&B), juga produk ritel lainnya seperti pakaian. Bahkan ada yang menyebut situasinya seperti saat pandemi COVID-19.
Berbeda dengan IKK yang kuat, salah satu akun media sosial X pelaku UMKM menyebutkan bisnis F&B di Bandung sedang lesu. "Teman-teman usaha F&B UMKM di Bandung lagi panik, omzet drop. Tiap 1 jam sekali upload konten," tulisnya dikutip Jumat (11/8).
Padahal Bandung selalu ramai jadi tujuan melancong sebagian warga Jakarta, khususnya di akhir pekan. Warga Bandung yang bekerja di Jakarta, biasanya juga pulang ke kotanya saat libur tiba.
Tapi keluhan drop-nya penjualan, juga dilontarkan satu pelaku usaha UMKM lainnya. Dia menulis, "Ternyata hampir 80% sektor F&B di Indonesia pada drop ya. Sedikit curiga di tanggal 31 Juli dan beneran kejadian wkw. Bahkan masih berlanjut sampe sekarang."
