Bisnis Pengiriman Barang Moncer, Masyarakat Harus Bisa Manfaatkan Peluang
·waktu baca 2 menit

Pandemi COVID-19 membuat kinerja bisnis jasa pengiriman moncer. Sebab, masyarakat saat ini sudah semakin terbiasa dengan aktivitas online termasuk untuk mengirimkan barang.
Ketua Umum DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), Yukki Nugrahawan Hanafi, mengatakan di awal pandemi berlangsung pihaknya mengalami kesulitan karena masyarakat belum beradaptasi dengan aktivitas pengiriman online.
Yukki menjelaskan, proses adaptasi diperlukan untuk pemahaman masyarakat karena prosesnya bukan hanya mengirimkan barang, tetapi juga ada berbagai protokol yang diterapkan.
“Nah tahun ini kondisinya jauh lebih baik dalam arti kata pengirimannya dan protokolnya maupun si jasa pengiriman maupun yang memesan itu juga sudah mempunyai protokol yang semua pihak dipahami gitu,” kata Yukki saat dihubungi kumparan, Kamis (12/8).
“Masyarakat sudah paham antara pengirim dan masyarakatnya sudah paham. Ada yang tidak paham tapi saya meyakini sebagian besar apakah dari perusahaan pengirimnya maupun juga dari masyarakatnya sangat memahami,” tambahnya.
Yukki menganggap pengiriman barang bisa memungkinkan masyarakat tidak bertemu secara langsung. Sehingga dapat meminimalisir terpapar COVID-19. Hal itu tentu bisa menjadi salah satu pertimbangan penggunaan jasa pengiriman. Sebab aktivitas belanja dan pengirimannya bisa online.
Data Bank Indonesia menunjukkan transaksi e-commerce di Indonesia pada semester I 2021 tumbuh pesat sebesar 63,4 persen secara year on year menjadi Rp 186,7 triliun. Sedangkan di sepanjang 2021, BI memproyeksi pertumbuhan transaksi e-commerce akan meningkat 48,4 persen atau senilai Rp 395 triliun.
Sementara hasil survei MarkPlus di 2020 menunjukkan frekuensi penggunaan jasa kurir jika dibandingkan dengan sebelum pandemi diakui oleh 39 persen responden meningkat signifikan dan 39 persen lainnya mengaku sedikit meningkat. Mayoritas masyarakat menggunakan jasa kurir untuk mengirimkan barang yang dibeli dari e-commerce sebanyak 85,2 persen.
Untuk itu, Yukki berharap kondisi tersebut bisa dimanfaatkan dengan baik oleh pihak terkait khususnya para pengusaha. Menurutnya masyarakat harus bisa memanfaatkan peluang yang ada di tengah pandemi COVID-19.
“Saya tidak bicara new normal sejak awal, tapi new opportunity. Ini kesempatan baru di mana para pihak yang tidak bisa menyesuaikan, yang ada tentunya tidak bisa bersaing terhadap sebuah perubahan,” ujar Yukki.
