Kumparan Logo

BKPM Siapkan Peta Jalan 28 Komoditas hingga 2040, Butuh Investasi USD 618,1 M

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi tambang mineral. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi tambang mineral. Foto: Shutterstock

Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM telah menyusun peta jalan pengembangan industri hilir yang mencakup 28 komoditas strategis, dengan estimasi kebutuhan investasi mencapai USD 618,1 miliar hingga 2040. Sektor mineral dan batu bara menjadi salah satu bidang yang memiliki peluang investasi besar dalam peta jalan tersebut.

Sejumlah persoalan seperti struktur pasokan, biaya pengolahan, harga komoditas, pembiayaan proyek, kualitas produk hilir, hingga pemenuhan standar rantai pasok global saat ini menjadi perhatian dalam pengembangan industri mineral kritis Indonesia.

Hal ini menjadi salah satu topik yang dibahas dalam International Critical Minerals and Metals Summit (ICMMS) Indonesia 2026 yang berlangsung pada 27-30 September 2026 di Bali. Forum yang diselenggarakan Fastmarkets bersama Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM itu mempertemukan pemerintah, investor, pelaku industri, perusahaan pengolahan, produsen material baterai, lembaga keuangan, hingga pelaku perdagangan komoditas dari berbagai negara.

“Pengembangan hilirisasi Indonesia saat ini bergerak melalui tiga tahapan strategis. Selama ini, kita telah membangun fondasi pengolahan mineral melalui smelter dan fasilitas pemurnian. Saat ini, prioritas kita memasuki Tahap Dua, yaitu memperluas pengembangan ke industri baterai kendaraan listrik, Battery Energy Storage System (BESS), serta manufaktur bernilai tambah tinggi lainnya,” ujar Deputi Bidang Hilirisasi Investasi Strategis BKPM, Heldy Satrya Putera, melalui keterangannya, Rabu (30/9).

Heldy menambahkan, besarnya investasi yang masuk ke sektor hilirisasi juga tercermin dari realisasi investasi pada Semester I 2026. Nilainya mencapai Rp 300,1 triliun, atau sekitar 29,7 persen dari total realisasi investasi nasional. Angka itu meningkat 6,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Dari total realisasi tersebut, penanaman modal asing (PMA) mencapai Rp 212,8 triliun atau 70,9 persen. Sementara itu, penanaman modal dalam negeri (PMDN) tercatat sebesar Rp 87,3 triliun atau 29,1 persen.

kumparan post embed

Capaian investasi itu menunjukkan perkembangan industri hilir Indonesia yang semakin besar. Tantangan berikutnya adalah memastikan pertumbuhan investasi tersebut dapat menghasilkan rantai nilai mineral yang kompetitif dan terhubung dengan kebutuhan pasar global.

“Kolaborasi yang solid antara pemerintah, industri, dan komunitas investor akan sangat penting untuk mewujudkan potensi tersebut, dan ICMMS 2026 menyediakan forum strategis guna menyatukan berbagai perspektif ini,” tambah Managing Director Fastmarkets, Catherine Oates.

Dalam konteks mineral kritis, agenda ICMMS 2026 ini juga membahas kebijakan nikel, dinamika harga, disiplin pasokan, serta ketentuan perdagangan. Dari sisi pengolahan, pembahasan mencakup keekonomian high-pressure acid leach (HPAL), daya saing asam sulfat, serta perkembangan teknologi pengolahan nikel.

Selain itu, pembahasan mengenai material baterai dalam forum ini turut diarahkan pada jenis produk hilir yang memiliki pasar dan mampu bersaing dalam rantai pasok kendaraan listrik global.