Kumparan Logo

BPS Catat Harga Beras Eceran Terus Naik, Capai Rp 14.784 per Kg di Mei 2025

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Calon pembeli memilah beras di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta, Kamis (4/7/2024). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Calon pembeli memilah beras di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta, Kamis (4/7/2024). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, harga beras eceran di bulan Mei 2025 masih mengalami kenaikan. Berdasarkan data resmi, inflasi harga beras eceran secara bulanan (month to month/mtm) tercatat sebesar 0,20 persen, dan secara tahunan (year on year/yoy) sebesar 2,46 persen.

Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menjelaskan data ini dihitung dari harga beras di seluruh wilayah Indonesia dengan berbagai jenis kualitas. Adapun rata-rata harga beras di penggilingan turun tipis 0,01 persen secara bulanan dari Rp 12.634 per kilogram pada April 2025 menjadi Rp 12.733 per kilogram.

Harga beras di tingkat grosir naik dari Rp 13.728 per kilogram pada April 2025 menjadi Rp 13.735 per kilogram pada Mei 2025.

Selain itu, harga beras di tingkat eceran naik menjadi Rp 14.784 per kilogram pada Mei 2025, dari bulan sebelumnya yang hanya di level Rp 14.754 per kilogram.

“Harga beras yang disampaikan ini merupakan rata-rata harga beras yang mencakup berbagai jenis kualitas dan juga mencakup harga beras di seluruh wilayah di Indonesia,” kata Pudji dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Senin (2/6).

instagram embed

Kenaikan harga juga terjadi di tingkat grosir, yakni sebesar 0,05 persen secara bulanan dan 2,07 persen secara tahunan. Sementara di tingkat penggilingan, harga rata-rata turun tipis 0,01 persen secara bulanan namun naik 2,37 persen secara tahunan.

Sementara itu, BPS juga mencatat produksi beras untuk konsumsi pangan masyarakat Indonesia pada periode Januari hingga Juli 2025 diperkirakan mencapai 21,76 juta ton gabah kering giling (GKG). Jumlah ini naik sebesar 2,83 juta ton atau 14,49 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2024.

Produksi tersebut berasal dari luas panen sepanjang Januari hingga Juli 2025 yang diperkirakan mencapai 7,14 juta hektare. Angka ini naik 0,88 juta hektare dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Wilayah Panen Terbesar Masih Didominasi Pulau Jawa

BPS juga melaporkan, wilayah dengan potensi panen padi terbesar sepanjang Mei hingga Juli 2025 sebagian besar terkonsentrasi di Pulau Jawa. Di tingkat provinsi, panen terbesar terdapat di Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Petugas melakukan pengepakan beras di Sentra Penggilingan Padi (SPP) Bulog di Karawang, Jawa Barat, Senin (20/5/2024). Foto: M Risyal Hidayat/ANTARA FOTO

Pada level kabupaten/kota, daerah dengan potensi panen relatif besar antara lain Indramayu, Subang, Cirebon, Karawang, Bekasi, Cianjur, Sukabumi, Grobogan, Sragen, Pati, Demak, Blora, Bojonegoro, Lamongan, dan Jember.

“Kemudian di Jawa Tengah, yaitu di Kerobokan, Sragen, Pati, Demak, dan Blora dan di Jawa Timur, yaitu di Bojonegoro, Lamongan, dan Jember,” ujar Pudji.

Curah Hujan Tinggi Diprediksi Bisa Pengaruhi Budidaya Padi

Pudji melanjutkan, menurut analisis dan prediksi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), curah hujan sepanjang April hingga Juli 2025 secara umum berada pada kriteria rendah hingga menengah. Namun, terdapat wilayah-wilayah dengan potensi curah hujan tinggi hingga sangat tinggi pada Juni hingga Juli 2025.

“Namun demikian perlu diwaspadai untuk perkiraan curah hujan kriteria tinggi hingga sangat tinggi pada sejumlah wilayah sepanjang Juni hingga Juli 2025 ini yang dapat mempengaruhi atau mengganggu budidaya tanaman padi,” ungkapnya.

Berdasarkan hasil pengamatan Kerangka Sampel Area (KSA) BPS, pada April 2025 sekitar 20,32 persen lahan padi telah memasuki fase panen, sementara 34,26 persen masih dalam fase pertumbuhan. Sebagian besar dari standing crops ini berada di fase generatif 13,83 persen, vegetatif akhir 7,54 persen, dan vegetatif awal 12,88 persen.