Kumparan Logo

BPS Pastikan Kenaikan Harga Plastik Belum Berdampak Langsung ke Konsumen

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi kantong plastik. Foto: Yung Chi Wai Derek/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kantong plastik. Foto: Yung Chi Wai Derek/Shutterstock

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti mengungkapkan kenaikan harga plastik belum berdampak langsung pada konsumen. Menurutnya, hal itu karena plastik bukan pengeluaran terbesar dalam konsumsi masyarakat.

“Mengapa harga plastik yang di pasaran itu meningkat dan belum kemudian terasa secara langsung kepada konsumen? Karena kalau kita lihat memang bobot terbesar dari keranjang konsumsi masyarakat pertama adalah tarif listrik. Artinya bahwa dari sekian konsumsi masyarakat memang proporsi terbesar adalah dikeluarkan oleh masyarakat itu pengeluarannya untuk tarif listrik,” kata Amalia dalam Rapat Koordinasi Inflasi, Senin (18/5).

Amalia mengatakan tarif listrik menjadi komoditas dengan bobot terbesar dalam struktur inflasi, yakni 4,8850 persen. Selain tarif listrik, Amalia juga menjelaskan bobot terbesar keranjang konsumsi masyarakat adalah bensin dan beras. Sehingga, jika harga bensin tak disubsidi maka komoditas itu akan memiliki andil besar dalam inflasi.

“Seandainya ada penyelesaian harga bensin terutama yang subsidi ini akan juga bisa memberikan kontribusi terhadap inflasi. Karena sampai saat ini bensin yang subsidi yang sebagian besar masyarakat kita mengkonsumsi bensin bersubsidi. Sehingga belum terasa dampaknya secara signifikan ke dalam inflasi, yang kemudian terjadi kenaikan tadi bensin adalah yang berasal dari bensin nonsubsidi,” ujarnya.

“Ketiga beras, makanya kemudian dari sini beras akan sangat berpengaruh terhadap inflasi karena memang bobotnya di dalam keranjang konsumsi masyarakat kita relatif tinggi,” tambahnya.

Bensin memiliki bobot SBG 4,4336 persen dengan tingkat inflasi 0,20 persen dan memberikan andil inflasi sebesar 0,0094 persen pada April lalu. Sementara beras memiliki bobot SBH 3,4260 persen dan mengalami inflasi 4,36 persen dan memberikan andil inflasi 0,1754 persen pada April lalu.

Kepala BPS Amalia Adinggar Widyasanti di Kantor Pusat BPS, Selasa (5/5/2026). Foto: Ave Airiza Gunanto/kumparan

Amalia menegaskan masyarakat tak mengkonsumsi plastik secara langsung. Namun, ada salah satu komoditas yang masih masuk ke dalam 20 besar keranjang konsumsi masyarakat yang berkaitan dengan plastik, yakni air kemasan.

Amalia menjelaskan andil komoditas air kemasan pada inflasi nantinya memang masih bergantung dari harga air kemasan yang ditetapkan produsen.

“Sepanjang air kemasan itu harganya tidak berubah tergantung dari perusahaan produsen air kemasan apakah dia meningkatkan atau menaikkan harganya akibat dari harga plastik meningkat atau enggak. Yang dirasakan oleh konsumen adalah bukan harga plastiknya tetapi harga air kemasannya,” terang Amalia.

Amalia menuturkan nantinya dampak kenaikan harga plastik pada konsumen dapat terlihat dari Indeks Harga Konsumen (IHK). Hal ini karena plastik berkaitan dengan beberapa produk yang menggunakan bahan tersebut sebagai pembungkus.

“Nah ini jadi artinya transmisi kenaikan harga plastik kepada konsumen atau IHK itu tergantung dari seberapa besar produsen-produsen makanan yang menggunakan plastik dalam pembukusnya. Seperti air kemasan atau kue-kue dalam plastik itu kemudian menaikkan harga barangnya itulah yang kemudian nanti dirasakan oleh konsumen dan tercermin di dalam indeks harga konsumen,” tutur Amalia.

video story embed