Kumparan Logo

BPS Perkirakan Produksi Padi April-Juni 2026 Turun

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Petani mengangkut hasil memanen padi di area persawahan Desa Tolang Jae, Kecamatan Sayur Matinggi, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Rabu (28/1/2026). Foto: Indrianto Eko Suwarso/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Petani mengangkut hasil memanen padi di area persawahan Desa Tolang Jae, Kecamatan Sayur Matinggi, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Rabu (28/1/2026). Foto: Indrianto Eko Suwarso/ANTARA FOTO

Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan adanya potensi penurunan panen dan produksi padi pada periode April hingga Juni 2026. Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan kondisi curah hujan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pola tanam dan panen padi tahun ini.

“Berdasarkan analisis dari BMKG, curah hujan pada Maret tahun 2026 secara umum mayoritas wilayah di Indonesia berada pada kriteria menengah. Nah tinggi rendahnya curah hujan tentunya ini akan mempengaruhi budidaya tanaman padi di setiap wilayahnya," kata Ateng dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Senin (4/5).

Dari hasil pengamatan Kerangka Sampel Area (KSA), luas panen padi pada Maret 2026 tercatat mengalami penurunan. BPS mencatat luas panen hanya mencapai 1,61 juta hektare, turun dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 1,67 juta hektare.

Penurunan ini diperkirakan berlanjut pada periode berikutnya. Untuk April hingga Juni 2026, potensi luas panen diproyeksikan mencapai 3,16 juta hektare atau turun 7,66 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Kondisi tersebut berimbas langsung pada produksi. BPS mencatat produksi padi pada Maret 2026 sebesar 8,75 juta ton gabah kering giling (GKG), turun 3,69 persen dibandingkan Maret 2025. Penurunan lebih dalam terlihat pada proyeksi ke depan.

Deputi Bidang Statistik Sosial BPS Ateng Hartono dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jumat (25/7). Foto: Ave Airiza Gunanto/kumparan

“Sementara itu teman-teman media potensi produksi pada April sampai dengan Juni tahun 2026 diperkirakan mencapai 16,68 juta ton GKG atau mengalami penurunan sebesar 1,51 juta ton GKG atau menurun 18,31 persen jika dibandingkan tadi berbeda yang sama di tahun 2025,” ungkap Ateng.

Penurunan produksi ini juga tercermin pada beras sebagai hasil akhir konsumsi. Produksi beras pada Maret 2026 diperkirakan sebesar 5,04 juta ton, lebih rendah dibandingkan tahun lalu. Sementara potensi produksi beras pada April–Juni juga turun sekitar 8,30 persen secara tahunan.

Meski demikian, secara kumulatif semester I 2026, produksi padi masih diperkirakan sedikit meningkat dibandingkan tahun lalu. Kenaikan tipis ini menutupi tren penurunan yang terjadi dalam jangka pendek, khususnya pada masa panen utama April hingga Juni.

Secara spasial, potensi panen padi masih terkonsentrasi di sejumlah wilayah sentra produksi, terutama di Pulau Jawa seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Di luar Jawa, potensi panen tersebar di Lampung, Sumatera Selatan, hingga Sulawesi Selatan.

BPS juga mengingatkan angka potensi tersebut masih sangat dinamis dan dapat berubah. Berbagai faktor seperti serangan hama, banjir, kekeringan, hingga pergeseran waktu panen berpotensi memengaruhi realisasi di lapangan.

Selain padi, tren serupa juga terlihat pada komoditas jagung. Luas panen jagung pada Maret 2026 tercatat lebih rendah dibandingkan tahun lalu, dan secara kumulatif Januari-Juni diperkirakan turun 2,51 persen. Produksi jagung diproyeksikan menyusut 2,69 persen pada periode yang sama.

video story embed