BPS Sebut Inflasi Maret 2023 Tak Setinggi Ramadhan Sebelumnya
·waktu baca 2 menit

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menyebut inflasi di awal Ramadhan 2023 lebih rendah ketimbang tahun-tahun sebelumnya.
"Inflasi bulan Maret 2023 yang bertepatan dengan awal Ramadhan relatif lebih rendah dibanding tahun sebelumnya," kata Pudji dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Senin (3/4).
Adapun inflasi Maret 2023 sebesar 0,18 persen dibandingkan bulan sebelumnya (mtm). Sementara secara tahunan (yoy), menunjukkan inflasi hingga 4,97 persen.
Pudji menjelaskan, permintaan menjelang Ramadhan 2023 memang tidak setinggi kondisi sebelum Pandemi. Sebab, pola konsumsi masyarakat belum 100 persen normal.
"Artinya dari sisi permintaan belum tinggi," katanya.
Namun, Pudji meminta masyarakat waspada terhadap lonjakan sejumlah komoditas pangan. Di antaranya tarif angkutan udara, daging sapi, daging ayam ras, bawah merah, telur ayam ras.
Berdasarkan data BPS, di tahun 2019 Ramadhan jatuh di bulan Mei dengan inflasi 0,68 persen. Pemicu utama tingginya inflasi adalah kenaikan harga cabai merah, daging ayam ras, bawang putih, ikan segar, angkutan antarkota, serta telur ayam ras.
"Tahun 2020, Ramadhan jatuh pada April dengan inflasi mencapai 0,08 persen. Didorong kenaikan harga komoditas bawang merah, emas perhiasan, gula pasir, bahan bakar rumah tangga, pepaya, dan rokok kretek filter," terang dia.
Kemudian, di tahun 2021 Ramadhan jatuh di April dengan inflasi 0,13 persen. Didorong kenaikan harga daging ayam ras, minyak goreng, jeruk, bahan bakar rumah tangga, emas perhiasan, dan anggur.
Selanjutnya, pada puasa bulan April 2021, terjadi inflasi sebesar 0,95 persen. Didorong oleh kenaikan harga komoditas minyak goreng, bensin, daging ayam ras, tarif angkatan udara, bahan bakar rumah tangga, dan telur ayam ras.
