Kumparan Logo

BPS Sebut Unit Usaha Pertanian Indonesia Turun Jadi 29,3 Juta, Ini Alasannya

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Seorang petani menyulam tanaman tomatnya yang mati di Kelurahan Bayaoge, Palu, Sulawesi Tengah, Selassa (5/5) Foto: ANTARAFOTO/Basri Marzuki
zoom-in-whitePerbesar
Seorang petani menyulam tanaman tomatnya yang mati di Kelurahan Bayaoge, Palu, Sulawesi Tengah, Selassa (5/5) Foto: ANTARAFOTO/Basri Marzuki

Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut angka usaha pertanian Indonesia di 2023 sebesar 29,3 juta unit usaha. Angka itu turun 2,35 juta unit dibandingkan dengan 10 tahun lalu atau tahun 2013.

"Hasil sensus pertanian yang kita dapatkan, jumlah usaha pertanian di Indonesia sebanyak 29.360.833 unit usaha pertanian. Ini turun sebanyak 2,35 juta unit atau 7,42 persen dibandingkan data 2013 sebesar 31.715.486 unit," kata Sekretaris Utama BPS, Atqo Mardiyanto dalam acara Diseminasi Hasil Sensus Pertanian 2023 di Hotel Ritz-Carlton Jakarta, Senin (4/12).

Adapun, usaha pertanian di Indonesia mencakup tiga jenis unit usaha, yaitu usaha pertanian perorangan (UTP), perusahaan pertanian berbadan hukum (UPB), dan usaha pertanian lainnya (UTL).

Secara rinci, jumlah UTP pada 2023 sebanyak 29,3 juta unit, turun 2,36 juta unit atau turun 7,45 persen dari 2013 sebanyak 31.705.295 unit. Sementara, jumlah UPB pada 2023 tercatat sebanyak 5.705 unit atau naik 35,54 persen dari 2013 sebanyak 4.209 unit.

Kemudian, UTL pada 2023 tercatat 12.926 unit atau naik 116,08 persen dari 2013 sebanyak 5.982 unit.

Sekretaris Utama BPS, Atqo Mardiyanto. Foto: Ave Airiza Gunanto/kumparan

Atqo bilang, salah satu faktor penyebab turunnya usaha tani karena makin sempitnya lahan pertanian.

"Makin ke sini 10 tahun bagaimana pun lahan berubah, lahan pertanian berubah (semakin sempit)," ungkapnya.

Di sisi lain, Atqo menilai total petani milenial di Indonesia terus naik. Berdasarkan catatan BPS, petani milenial usaha 19 tahun hingga 39 tahun mencapai 16,78 juta.

Data petani milenial sendiri dapat menjadi salah satu indikator tingkat regenerasi di sektor pertanian serta menunjukkan pemanfaatan teknologi digital yang diharapkan dapat menciptakan pertanian modern yang produktif dan berkelanjutan.

"Urban farming juga cukup tinggi 1,48 persen di DKI Jakarta yang lahannya sedemikian rupa. Orang (Jakarta) bertani menjanjikan," katanya.

Atqo mengakui turunnya usaha pertanian di Indonesia menjadi ancaman bagi ketahanan pangan nasional. "Iya (menjadi ancaman ketahanan pangan). Tapi harapannya engga drastis," tandasnya.