BPS soal Pemicu Kemiskinan: PHK Sektor Padat Karya hingga Harga BBM

18 Januari 2023 13:54 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Sejumlah pemulung memilah sampah di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, Ciketing Udik, Bekasi pada Selasa (17/1/2023). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah pemulung memilah sampah di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, Ciketing Udik, Bekasi pada Selasa (17/1/2023). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Sebanyak 26,36 juta jiwa masuk dalam kategori miskin berdasarkan rilis terbaru Badan Pusat Statistik (BPS). Angka itu merupakan 9,57 persen dari total penduduk Indonesia.
ADVERTISEMENT
Bila dilihat dari rentang Maret hingga September 2022, terdapat penambahan jumlah sebanyak 200 ribu jiwa.
Deputi Bidang Statistik Sosial BPS Ateng Hartono menjelaskan, faktor pemicu bertambahnya kemiskinan yaitu penyesuaian harga BBM, pemutusan hubungan kerja di sektor padat karya, dan upah buruh tani harian turun.
"Penyesuaian harga BBM pada tanggal 3 September 2022 seperti Pertalite naik 30,72 persen, Solar naik 32,04 persen dan Pertamax (non-subsidi) naik 16 persen," ujar Ateng saat dihubungi kumparan, Rabu (18/1).
Ateng mengatakan, penyesuaian harga BBM meningkatkan biaya produksi pertanian. Indeks biaya produksi dan penambahan barang modal subsektor tanaman pangan dan perikanan tangkap turut naik terutama didorong kenaikan harga bensin, solar, dan ongkos angkut.
Sepanjang September 2022, kata Ateng, terjadi PHK di sektor padat karya seperti industri tekstil, alas kaki serta perusahaan teknologi. Kemudian, upah buruh tani harian turun 1,99 persen, dari Rp 52.494 pada Maret 2022 menjadi Rp 51.447 pada September 2022.
ADVERTISEMENT
BPS mencatat sebagian besar penduduk miskin yang berpendidikan SD, tidak tamat SD, dan tidak pernah sekolah yaitu sebesar 42,66 persen. Sedangkan yang berpendidikan SMP sederajat 15,3 persen, dan SMA ke atas 14,08 persen.
"Rata-rata jumlah ART penduduk miskin lebih banyak dibandingkan dengan ART penduduk yang tidak miskin. Masing-masing sebesar 4,34 persen dan 3,34 persen," katanya.
Ateng menuturkan, faktor yang menurunkan kemiskinan yaitu bantalan untuk melindungi daya beli. Contohnya bantuan subsidi upah (BSU), bantuan langsung tunai (BLT), dukungan pemda melalui 2 persen dana transfer umum, dan lainnya.
"Pemulihan ekonomi terus berlanjut, tercermin dari perekonomian kuartal III 2022 tumbuh 5,72 persen dan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) turun 5,86 persen pada Agustus 2022," lanjutnya.
ADVERTISEMENT
Kepala BPS Margo Yuwono menyebut kondisi kemiskinan di Indonesia belum sepenuhnya pulih usai dihantam pandemi COVID-19.
"Kalau dilihat tenaga kerja, belum sepenuhnya angkatan kerja terserap akibat pandemi dua tahun terakhir ini," imbuh Margo dalam konferensi pers di Gedung BPS, Senin (16/1).