BSI Catat Laba Bersih Rp 2,1 T di Semester I 2022, Dirut: Berkah Merger

28 September 2022 16:43
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Direktur Utama BSI Hery Gunardi memaparkan kinerja semester I 2022, Kamis (25/8/2022). Foto: BSI
zoom-in-whitePerbesar
Direktur Utama BSI Hery Gunardi memaparkan kinerja semester I 2022, Kamis (25/8/2022). Foto: BSI
Tiga Bank BUMN Syariah, BRI Syariah, Mandiri Syariah dan BNI Syariah sejak 1 Februari 2021 resmi merger menjadi PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) atau BSI. Direktur Utama BSI Hery Gunardi membeberkan performa perseroan yang melejit setelah satu tahun lebih melakukan merger.
Laba bersih BSI pada 2021 mencapai 3,02 triliun atau melejit 38 persen dibandingkan tahun 2020 sebelum merger, yakni hanya Rp 2,18 triliun. Performa tersebut terus meningkat di mana pada semester I 2022 laba bersih BSI mencapai 2,13 triliun, atau naik 41 persen dibanding semester 1 2021 yang mencapai Rp 1,5 triliun.
"Ini adalah berkah dari merger, karena merger ini membawa best practice, business process lebih bagus, business model-nya juga lebih bagus," kata Hery ketika RDP dengan Komisi XI DPR RI, Rabu (28/9).
Performa serupa juga ditunjukkan pada Return On Asset (ROA). BSI mencatatkan ROA sebelum merger, tahun 2020 yakni 1,38 persen. Capaian itu membaik pada 2021 menjadi 1,61 persen.
Sementara Return on Equity (ROE) BSI pada tahun 2020 sebelum merger yakni 11,19 persen, meningkat pasca merger menjadi 13,71 persen pada 2021. Pada semester I 2022 ini BSI mencatatkan ROE 17,66 persen.
Teller bank melayani nasabah di Bank Syariah Indonesia di Jakarta. Foto: Willy Kurniawan/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Teller bank melayani nasabah di Bank Syariah Indonesia di Jakarta. Foto: Willy Kurniawan/REUTERS
Hal serupa juga ditunjukkan dari performa cast coverage di mana tahun 2020 sebelum merger, cast coverage BSI hanya 134,31 persen, meningkat menjadi 148,87 persen pada tahun 2021. Pada Semester I 2022, BSI mencadangkan cadangan untuk pembiayaan bermasalah mencapai 157,93 persen.
"Cost of Fund (CoF) juga membaik. Posisi Juni 2022, CoF dibandingkan sebelum merger itu 3,40 persen, menurun drastis di semester I 2022 sebesar 1,57 persen. Jadi ada perbaikan yang memang sangat signifikan," kata Hery.
Selain performa internal, Hery mengatakan performa BSI setelah merger juga dirasakan dampaknya bagi negara dan masyarakat. "Merger juga memberikan banyak benefit juga kepada negara dan masyarakat. Kami sudah menyetor pajak meningkat tinggi," tegas Hery.
Untuk negara, BSI telah menyetorkan pajak sebesar Rp 1,19 triliun setelah merger pada tahun 2021, meningkat sebelum merger tahun 2020 yang hanya Rp 987 miliar. Hingga semester I 2022, BSI menyetorkan pajak sebesar Rp 800 miliar.
"Dividen juga sudah membagikan dividen kepada pemerintah melalui Bank Mandiri karena konsolidasi, setelah merger kita menyetor dividen sekitar Rp 757 miliar," kata Hery.
Sementara manfaat yang diberikan untuk masyarakat, BSI pada tahun 2021 lalu telah mengumpulkan zakat dari zakat perusahaan dan karyawan mencapai Rp 130 miliar, meningkat 37 persen daripada tahun 2020 sebelum merger yakni hanya Rp 74 miliar.
Adapun hingga semester I 2022, BSI telah mengumpulkan zakat sebesar Rp 71 miliar, naik 41 persen dibanding pada Semester I 2021 sebesar Rp 50 miliar.
"Ini mungkin satu-satunya perusahaan di Indonesia yang berzakat paling besar ya BSI. Karena bisnis modelnya begini, kalau bank konvensional kan sama-sama punya revenue, punya cost, punya pendapatan sebelum pajak, kemudian membayar pajak. Tapi kita sebelum membayar kita pajak bayar zakat 2,5 persen," pungkasnya.