Kumparan Logo

BSI Raup Laba Bersih Rp 1,87 Triliun di Kuartal I 2025, Tumbuh 10,05 Persen

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Gedung BSI.  Foto: Dok. BSI
zoom-in-whitePerbesar
Gedung BSI. Foto: Dok. BSI

PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) mencatatkan kinerja yang impresif pada kuartal pertama 2025 dengan membukukan laba bersih sebesar Rp 1,87 triliun. Nilai tersebut tumbuh 10,05 persen Year on Year (YoY) jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Plt. Direktur Utama BSI, Bob Tyasika Ananta, mengatakan kuartal I 2025 kinerja keuangan BSI sangat solid, bahkan pertumbuhannya di atas rata-rata industri.

"Kinerja keuangan BSI kuartal 1 2025 dapat tumbuh di atas pertumbuhan industri dengan kualitas yang sehat tentunya," ucap Bob T Ananta dalam konferensi persnya, Rabu (30/4).

BSI membukukan pendapatan piutang Rp 3,8 triliun, tumbuh dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 3,53 triliun. Pendapatan piutang paling banyak dari perolehan Murabahah sebesar Rp 3,43 triliun.

BSI juga memperoleh pendapatan bagi hasil Rp 2,38 triliun, tumbuh 30,8 persen dari periode sebelumnya Rp 1,82 triliun. Meski demikian, emiten BRIS ini membukukan kenaikan kerugian penurunan impairment 22,73 persen menjadi Rp 664,41 miliar per kuartal I 2025, dibandingkan periode yang sama tahun 2024 sebesar Rp 541,31 miliar.

Di samping itu, pertumbuhan laba perseroan diiringi dengan meningkatnya nilai aset yang mencapai Rp 401 triliun atau tumbuh 12,01 persen YoY dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya yang mencetak Rp 358 triliun.

Tak hanya itu, BSI juga mampu meningkatkan pendapatan berbasis komisi dan administrasi menjadi Rp 749,75 miliar, ini lebih besar daripada periode yang sama tahun 2024 yang sebesar Rp 472,74 miliar.

Plt. Direktur Utama BSI, Bob Tyasika Ananta. Foto: Bank BSI

Lebih lanjut, peningkatan laba bersih juga didorong oleh pencapaian kinerja penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp 319,34 triliun. Jika ditelisik kinerja rasio, dari sisi financing to deposit ratio (FDR) berada di level 89,87 persen pada kuartal I 2025.

Hingga 31 Maret 2025, BSI telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp 287 triliun tumbuh 16,21 persen YoY. Berkenaan dengan ini, rasio kredit macet alias nonton performing financing (NPF) gross BSI tercatat 1,88 persen, dengan NPF net di angka 0,51 persen.

"Pembiayaan tumbuh 16,21 persen year-on-year menjadi Rp 287 triliun. Hal ini tentunya akan memperkokoh posisi CASA BSI," lanjut Bob.

BSI juga mampu menurunkan nilai CKPN yang disisihkan sebesar 2,82 persen dari sebelumnya di angka 2,97 YoY.

Selain itu, dari sisi biaya BSI mencatat efektivitas dan efisiensi yang tercermin dari rasio BOPO (Biaya Operasional) menjadi 70,57 persen. Sementara itu, net imbalan (NI) BSI menurun jadi 5,31 persen dari sebelumnya 5,38 persen.

BSI mencatatkan pendapatan setelah distribusi bagi hasil sebesar Rp 4,77 triliun, naik dibanding periode yang sama tahun 2024 sebesar Rp 4,38 triliun. Kemudian pendapatan dari penyaluran dana menjadi Rp 7,09 triliun, lebih besar dari sebelumnya sebesar Rp 6,03 triliun.

instagram embed