Kumparan Logo

BUMN RI Bakal Investasi Rp 4,97 T untuk Proyek Kereta di Afrika

kumparanBISNISverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana proses pemuatan gerbong kereta tipe 'Broad Gauge' kedalam lumbung kapal untuk dikirim ke Bangladesh, di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (20/1/2019). Foto: ANTARA FOTO/Zabur Karuru
zoom-in-whitePerbesar
Suasana proses pemuatan gerbong kereta tipe 'Broad Gauge' kedalam lumbung kapal untuk dikirim ke Bangladesh, di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (20/1/2019). Foto: ANTARA FOTO/Zabur Karuru

PT INKA (Persero) menggandeng sejumlah BUMN RI sedang menyiapkan investasi sebesar USD 350 juta atau setara Rp 4,97 triliun (kurs USD 1 =Rp 14.200) untuk proyek pengembangan infrastruktur dan penyediaan kereta di kawasan Afrika.

Direktur Utama INKA, Budi Noviantoro mengatakan, rencana itu akan dibahas di Indonesia-Africa Infrastructure Forum Dialogue (IAID) di Bali, pada 20-21 Agustus 2019.

Beberapa BUMN yang ikut keroyokan investasi itu meliputi PT Wijaya Karya (Persero) Tbk dan PT LEN Industri (Persero), yang ditopang pendanaan dari Indonesia Eximbank.

"USD 350 juta untuk (patungan) BUMN digotong sama Exim (bank) segala macam. Nanti yang bangun uangnya Exim, yang bangun WIKA, yang masang sinyal LEN, sarana kita (INKA)," ujar Budi di Gedung Kementerian BUMN, Jakarta, Senin (19/8).

Budi menjelaskan, investasi itu dimungkinkan dilakukan melalui penawaran skema build operate transfer (BOT).

"Kita mau BOT. Itu yang bagus, bisa dapat pendapatan sehari-hari. Misalkan kita kontrak investasi di situ bareng-bareng. Katakanlah X kita minta 30 tahun. Setelah 30 tahun, serahkan ke pemerintah mereka," papar dia.

Ngopi Bareng BUMN bersama Direktur Utama PT Inka Budi Noviantoro (kiri) di Gedung Energy Lounge BUMN, Jakarta, Senin (19/8). Foto: Nurul Nur Azizah/kumparan

Pihaknya mengungkap, Afrika selama ini memang membutuhkan infrastruktur kereta. Namun, Afrika memiliki kesulitan untuk beli putus atau membayar lunas.

Tak elak, INKA lantas menggandeng BUMN untuk mencari cara agar bisa tambal sulam. Caranya, INKA menawarkan untuk menggarap potensi komoditas yang ada di Afrika. Salah satu yang disasar misalnya, Madagaskar.

Ia mencontohkan, Madagaskar memiliki hasil tambang Kraomita Malagasy/Kraoma Sa namun tarif angkutannya masih mahal.

"Tarif angkutannya, sekarang saja Kraoma ngangkut dari tambang dia ke pelabuhan itu USD 50 (per ton), mahal itu," kata dia.

Di situlah, kata dia, INKA dengan konsorsium BUMN RI masuk untuk menawarkan jasa itu. Yaitu, sekitar USD 46 per ton, lebih murah dari tarif angkutan di Madagaskar.

"Target kita enggak banyak-banyak sebetulnya, 2 juta (ton) aja setahun sudah cukup," tandasnya.