Cabai Merah dan Beras Naik, BPS Ingatkan Efek Inflasi pada Desember

Badan Pusat Statistik (BPS) mewaspadai kenaikan harga cabai merah, cabai rawit, hingga beras pada awal Oktober 2026 dapat menaikkan laju inflasi.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik BPS, Ateng Hartono, mengatakan bahwa hingga pekan pertama Oktober 2026, harga beras premium dan medium, serta cabai merah mengalami kenaikan di atas harga acuan penjualan (HAP).
"Masing-masing beras medium naik 0,16 persen dan premium 0,13 persen, kemudian cabai merah, kalau kita bandingkan dengan HAP ini di atas batas atasnya, harga saat ini Rp 63.913, rata-ratanya sedangkan HAP atasnya itu Rp 55.000," ungkapnya saat Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi, Senin (5/10).
Ateng menyebutkan kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IHP) cabai merah merupakan yang paling besar, yakni 81 persen kabupaten dan kota, atau setara 292 daerah.
BPS mencatat terdapat beberapa provinsi yang mengalami kenaikan IPH di atas 5 persen, yaitu Kalimantan Utara, Papua, Sumatera Barat, dan Sulawesi Barat. Dari total 290 kabupaten/kota, kenaikan IPH tertinggi terjadi di Kabupaten Biak Numfor sebesar 9,32 persen, Mamuju Tengah 5 persen, dan Tapanuli Selatan 4,61 persen. Hampir semuanya dipengaruhi oleh cabai rawit dan cabai merah.
"Rata-rata di sini cabai merah dan cabai rawit, can beberapa daging ayam ras dan daging sapi," jelas Ateng.
Ateng menjelaskan terdapt 292 kabupaten/kota dengan kenaikan IPH cabai rawit, kemudian kenaikan IPH beras di 116 daerah, telur ayam ras di 115 daerah, dan daging ayam ras di 217 daerah.
Waspada Harga Beras
Di sisi lain, Ateng juga menuturkan bahwa harga beras penggilingan naik 0,81 persen (mtm) menjadi Rp 14.329 per kg, sementara harga beras grosir naik 0,61 persen menjadi Rp 14.992 per kg, dan beras eceran naik 0,8 persen menjadi Rp 15.769 per kg.
Meskipun kenaikannya tidak signifikan secara bulanan, dia menilai jika terjadi terus menerus hingga Desember 2026, hal ini akan memicu lonjakan inflasi karena pengaruh low base effect.
"Kelihatannya itu naiknya kecil, tetapi, harganya yang perlu kita jaga. Kalau beras kenaikannya terus menerus, maka pada Desember 2026 ada yang dinamakan low base effect. Artinya, nantinya jika harganya terus naik, dibandingkan dengan Desember 2025 yang hanya Rp 15.000, maka akan terjadi inflasi yang tergolong cukup tinggi," tutur Ateng.
