Cerita Pengecer Jual LPG 3 Kg, Pembelinya Diwajibkan Bawa KTP
·waktu baca 3 menit

Isu kelangkaan LPG 3 kg mencuat. Banyak warga mengeluh kesulitan mendapatkan gas melon. Sementara harga di beberapa daerah melonjak hingga Rp 30 ribu per tabung.
Namun, di daerah Tanjung Barat, ada pedagang yang tetap berpegang pada harga lama. Nia dan Tio, pemilik warung kecil, menolak mengambil keuntungan lebih meski permintaan meningkat tajam.
Nia telah bertahun-tahun menjalankan warung sembako yang menyediakan kebutuhan pokok untuk warga sekitar, termasuk gas melon yang kini banyak dicari. Di saat banyak pengecer menaikkan harga, Nia tetap mematok harga Rp 20 ribu per tabung.
“Saya jual Rp 20 ribu dari dulu, enggak pernah saya naikin walaupun stoknya katanya langka. Saya dapat dari agen Rp 17 ribu, jadi untungnya emang sedikit,” kata Nia kepada kumparan, Selasa (4/2).
Meski margin keuntungannya tipis, Nia tetap menjaga harga agar terjangkau. Setiap kali ada yang membeli, ia selalu meminta KTP dan mencatat nama serta Nomor Induk Kependudukan (NIK) pembeli.
"Setiap ada yang beli saya minta KTP-nya, saya catat nama dan NIK. Nanti catatan itu saya kasih ke agen waktu mau beli lagi. Kalau dia enggak bawa KTP, saya enggak kasih gasnya," jelas Nia.
Meski begitu, Nia tak memungkiri adanya penurunan stok dari agen. Biasanya, beberapa mobil pengangkut gas datang secara rutin, tetapi belakangan jumlahnya berkurang.
Nia menolak ketika ditawari menjadi agen gas melon. Bagi Nia, menjadi agen berarti harus siap dengan modal besar dan tekanan stok yang terus mengalir. Jika laris bisa mendapat untung, tetapi jika sepi, ia akan terbebani.
Tak jauh dari Warung Nia, ada Warung Tio yang juga menjual gas melon dengan harga serupa, Rp 20 ribu per tabung. Seperti Nia, Tio harus mematuhi aturan pencatatan NIK pembeli sebelum memperoleh pasokan baru dari agen.
“Saya jual gas dari agen, masih dapat stok dari sana. Tapi orang yang beli memang harus ngasih KTP. Nanti saya tulis, saya kirim lagi ke agen itu catetannya,” kata Tio.
Bagi Tio, keribetan administrasi ini tidak menghalangi niatnya untuk tetap melayani warga. Meski ribet, ia memahami prosedur ini penting untuk memastikan gas melon sampai ke tangan yang benar.
"Ribet tapi nggak papa, biar orang masih bisa masak," ujar Tio.
Nia dan Tio memiliki prinsip tidak mengambil keuntungan berlebih di tengah krisis. Mereka memilih untuk tetap melayani dengan harga yang wajar, meski keuntungan yang diperoleh tidak besar.
"Puji Tuhan di sini nggak antre kayak yang ramai di TV. Tapi emang ada beberapa dari orang bukan daerah sini beli di saya. Tapi untungnya ya dia mau kasih KTP-nya," kata Nia.
Bahkan saat ada yang menawarkan tambahan uang agar bisa mendapatkan gas, Nia tetap pada prinsipnya. "Ada juga orang yang mau nambahin Rp 2.000 atau lebih biar dapet gas melon itu. Saya bilang enggak usah, harganya tetep Rp 20.000," tegasnya.
Krisis gas melon bukan hanya soal stok yang menipis, tapi juga cerita perjuangan pedagang kecil yang tetap berpegang pada prinsip keadilan dan kepedulian. Mereka tidak hanya menjual barang, tetapi juga memberikan rasa aman dan keadilan bagi masyarakat sekitar. Nia berharap agar masalah ini segera selesai.
"Kasihan orang-orang yang mau masak, semoga cepet selesai masalah ini. Soalnya kasian banget yang emang membutuhkan gas melon jadi susah dapat. Apalagi ada berita sampai ada yang meninggal kecapekan cari gas melon," ungkap Nia.
