Kumparan Logo

Cerita Pengusaha Garmen Produksi APD untuk Cegah PHK di Tengah Corona

kumparanBISNISverified-green

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana produksi pembuatan baju hazmat di pabrik garmen Zhejiang Ugly Duck Industry, di Wenzhou, China. Foto: AFP/NOEL CELIS
zoom-in-whitePerbesar
Suasana produksi pembuatan baju hazmat di pabrik garmen Zhejiang Ugly Duck Industry, di Wenzhou, China. Foto: AFP/NOEL CELIS

Senin sore di awal Maret menjadi malapetaka bisnis garmen milik Adrian Malli. Dalam konferensi pers di Istana Kepresidenan pada 2 Maret 2020, Presiden Jokowi menyampaikan kasus virus corona pertama di Indonesia.

Setelah pengumuman mengejutkan tersebut, aktivitas ekonomi langsung drop. Orang-orang lebih memilih untuk beraktivitas di dalam rumah.

Selanjutnya, mal-mal sekelas Grand Indonesia, Mal Taman Anggrek hingga Gandaria City memilih untuk menutup sebagian besar gerai di tengah pandemi COVID-19 yang terus meluas.

Adrian yang merupakan pemasok baju-baju batik di mal-mal ibu kota terpaksa tutup untuk sementara waktu. Ia tak bisa berharap banyak dari bisnis dibangun delapan tahun lalu bersama sang istri.

“Kita enggak pernah tahu pandemi ini sampai kapan. Padahal mau dekat Lebaran tapi enggak bisa jualan,” keluhnya melalui sambungan telepon.

Suasana pabrik garmen. Foto: AFP

Pria kelahiran Bandung ini mengungkapkan stok baju batik dan hijab saat ini hanya tertumpuk di gudang. Ia sudah jauh-jauh hari mempersiapkan stok baju batik yang siap diantarkan ke mal-mal untuk dijual pada saat Lebaran.

Biasanya, Adrian mampu meraup pendapatan dari bisnis baju batik dan hijab pada saat lebaran hingga Rp 2 miliar. Batik dengan merek Nayara ini memang tergolong premium, dengan range harga Rp 130.000 - Rp 500.000 per piece (pcs).

Namun, untuk lebaran tahun ini ia memprediksi akan terjadi penurunan yang sangat tajam sekitar 80-90 persen. Sebab kata dia, bisnis garmen atau fashion permintaan paling tinggi terjadi pada saat lebaran.

Saat orang-orang melakukan aktivitas di rumah masing-masing, pemesanan setidaknya datang melalui online @nayara.id.official. Adrian menyebutkan 10 tokonya yang berada di Jakarta, Makassar, Manado dan Bandung telah tutup.

“Jual online juga enggak seberapa bagus, mungkin orang lebih prioritas beli sembako dibanding baju,” tuturnya.

Suasana pabrik garmen. Foto: AFP

Melalui bisnisnya Adrian sudah bisa memberdayakan hingga puluhan pegawai termasuk 10 penjahit inti. Para pegawainya berasal dari sekitar rumahnya. Adrian tak mengelak jika saat ini kondisi karyawannya cukup terpukul.

“Sepuluh penjahit itu pulang dari kerja, saya suruh cari teman-teman di RT untuk bantu dia (menerima pesanan jahit) mereka punya 20-30 penjahit,” katanya.

Adrian tahu betul di tengah pandemi bisnis garmen sudah tidak bisa diharapkan lagi. Ia khawatir para pegawainya menganggur lagi karena tidak ada operasional bisnis yang berjalan.

Adrian mencari jalan keluar ini dengan melihat peluang yang ada di depan mata. Sebab, dirinya berkomitmen untuk tetap berupaya memberdayakan seluruh pegawainya.

kumparan post embed

Salah satu upayanya yaitu dengan menerima pesanan Alat Pelindung Diri (APD). Meski tidak sebesar penghasilan dari bisnis garmen, setidaknya dengan menerima tawaran produksi baju tenaga medis cukup untuk memberdayakan seluruh pegawainya.

“Kerjain baju APD sama masker kerjain di rumah saya, kan satu tempat rame-rame jadi 5 masuk besok libur. Jadi nanti yang 5 gantian di rumah setor kerja sehari,” imbuhnya.

Saat ini Adrian mengerjakan 2.000 APD. Ia pun memberikan penghasilan kepada setiap penjahit sekitar Rp 100 ribu per hari.

“Sebenarnya saya juga rugi. Tapi yang penting mereka makan. Efeknya bener-bener sengsara,” cetusnya.