Kumparan Logo

Cerita Perajin Tempe Dimarahi Pedagang Pasar karena Naikkan Harga

kumparanBISNISverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pekerja membuat tempe di sentra perajin tempe Sanan, Malang, Jawa Timur, Senin (4/1/2021).  Foto: Ari Bowo Sucipto/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Pekerja membuat tempe di sentra perajin tempe Sanan, Malang, Jawa Timur, Senin (4/1/2021). Foto: Ari Bowo Sucipto/ANTARA FOTO

Naiknya harga kedelai membuat perajin tempe kelimpungan. Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo), Aip Syarifuddin, mengungkapkan bahwa pihaknya sudah kesulitan karena harga naik sejak September 2020.

Aip mengatakan, pihaknya menaikkan harga jual di pasar tradisional agar tidak merugi. Namun, langkah itu mulanya tidak mudah.

“Kami ini minta maaf, kultur budaya kami itu adalah kekeluargaan, gotong royong, dan koperasi sehingga kita titip barang di pasar itu sudah kayak kekeluargaan. Tukang dagang di pasar marah, kenapa dinaikkan? Kami susah, kami rugi gini-gini,” kata Aip saat rapat dengan Komisi IV DPR, Rabu (20/1).

Aip menjelaskan ada pedagang pasar yang mengerti, tidak sedikit yang memahami kondisi naiknya harga kedelai. Dalam tahap ini pihaknya mengaku kesulitan atau serba salah.

“Sehingga menaikkan harga saja untuk perajin tempe dan tahu itu susah,” ujar Aip.

Perajin menata tempe yang masih proses fermentasi di salah satu tempat pembuatan tempe di Medan, Sumatera Utara, Kamis (6/9). Foto: ANTARA FOTO/Septianda Perdana

Aip lalu menyikapi kondisi tersebut dengan berkumpul bersama para perajin di Gakoptindo. Dalam pertemuan tersebut tepatnya tanggal 28 Desember 2020 disepakati adanya mogok produksi dari para perajin.

Aip menilai mogok produksi yang dilakukan sejak tanggal 1 hingga 3 Januari 2021 berdampak positif kepada para perajin. Menurutnya masyarakat juga jadi bisa memahami khususnya terkait dinaikkannya harga tempe.

kumparan post embed

“Nah setelah itu ternyata alhamdilillah Allah memberkahi kami pada umumnya pedagang, masyarakat mengerti. Kami jual (di pasar) dari Rp 10.000 itu menjadi Rp 12.000, dari Rp 12.000 menjadi Rp 14.000 atau Rp 15.000 1 kilo tempe ini,” ungkap Aip.

“Dari 1 kilo tempe itu bisa dipotong menjadi beberapa puluh potong kan gitu. Jadi dengan demikian kenaikan kami ini tidak seberapa, hanya maksimum kira-kira 20 persen,” tutupnya.