Kumparan Logo

Cerita Sukses China Berantas Kemiskinan dalam 40 Tahun

kumparanBISNISverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana apartemen di China. Foto: Feby Dwi Sutianto/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Suasana apartemen di China. Foto: Feby Dwi Sutianto/kumparan

Perihal pengentasan kemiskinan, salah satu negara yang digadang-gadang berhasil merealisasikan ialah China. Upaya itu, dilakukan dalam 40 tahun sejak 1978-2018 ini. Uraian keberhasilan China ini terdokumentasikan dalam sejumlah jurnal ilmiah.

Salah satu jurnal itu berjudul ‘China’s 40 Years of Reform and Development: 1978–2018’ yang ditulis akademisi ekonomi Ross Garnaut, Ligang Song, dan Cai Fang. Jurnal itu diterbitkan oleh ANU Press pada 2018.

Dalam jurnal itu disebutkan bahwa China mulai membuka diri ke dunia luar pada tahun 1978. Reformasi besar-besaran di bidang ekonomi tersebut dilakukan di bawah pemerintahan Deng Xiaoping.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira Adhinegara, tak memungkiri langkah yang dilakukan pemerintah China untuk memberantas kemiskinan memang terbilang ekstrem.

Sebagaimana disebut dalam jurnal itu, pemerintah China berani dalam mengakumulasi kapital, memanfaatkan jumlah tenaga kerja yang berlimpah, hingga interaksi dengan dunia internasional untuk mendorong perusahaan China untuk giat menggenjot kegiatan ekspor.

"Memang China itu cukup ekstrem bisa menurunkan kemiskinan dari 88 persen menjadi kemiskinan yang sangat rendah hanya dalam waktu 40 tahun. Itu memang terbukti dari data statistik," katanya ketika dihubungi kumparan, Minggu (14/4).

Dalam catatan Bank Dunia, GDP China pada 1978 adalah USD 149,581 miliar Sementara pada 2017 mencapai USD 12,238 trilliun. Hasilnya, 850 juta warga China dapat keluar dari kemiskinan.

Lantas, apa yang telah dilakukan China dan bisa dipelajari oleh Indonesia?

Bhima lantas merinci, hal penting yang dilakukan pemerintah China di tahun 1970-1980 kala itu ialah melakukan industrialisasi. Tak hanya itu, pemerintah kala itu juga mulai masif membentuk kawasan ekonomi khusus (KEK) hingga joint venture yang bisa menstimulus transfer pengetahuan dan teknologi.

"Dia (China) membuat kawasan-kawasan ekonomi khusus salah satunya XenZhen, salah satunya dia memanggil perusahaan-perusahaan multinasional tapi dia harus bekerja sama dengan perusahaan lokal atau model joint venture yang ada di China. Sehingga bisa menyerap tenaga kerja sehingga terjadi alih teknologi sehingga menyerap pengangguran cukup signifikan. Khususnya di delta yang ada di bagian selatan bagian Hong Kong," terang dia.

embed from external kumparan

Meski melakukan industrialisasi, kata Bhima, China tak lantas mengabaikan kearifan lokal yang ada di pedesaan. Pihak mereka menciptakan berbagai industri rumahan atau UMKM yang sesuai dengan potensi setempat yang telah dikemas sedemikian rupa hingga bernilai ekspor.

"Makanya kita melihat tidak hanya produk manufaktur besar yang diekspor, seperti Apple Samsung, tetapi industri rumahan itu juga berorientasi ekspor selain pemenuhan kebutuhan dalam negeri. Ini ternyata juga bisa mendorong pertumbuhan ekonomi yang merata di pedesaan," ujar dia.

Tak kalah penting, Bhima juga menekankan pemenuhan supply chain di China telah dibentuk terintegrasi dari hulu ke hilir. Imbasnya, rantai pasok bisa terhubung satu sama lain dan bisa meningkatkan nilai tambah.

"Global supply chain yang terhubung mulai skala paling mikro, bahan bakunya dari China industri rumahan dari China itu mensuplai pada perusahaan-perusahaan yang lebih besar," imbuh dia.

Agar proses produksi kian berkembang, ia juga menyebut pemerintahan China giat dalam menyokong infrastruktur yang mumpuni. "Sehingga banyak kemudian investor yang menanamkan modalnya di China karena adanya infrastruktur yang dikembangkan di pemerintah secara besar-besaran. Pelabuhan, bandara untuk logistik dan ini yang menjadikan China salah satu kekuatan ekonomi dunia," katanya.

China kata dia juga termasuk negara yang aktif dan konsisten melakukan terobosan dan inovasi teknologi. "Sekarang jumlah paten yang paling besar dan paling produktif salah satunya adalah dari China," sebutnya.

Namun, Bhima tidak menyarankan Indonesia mengambil langkah serupa seperti China yang banyak melakukan praktik imitasi atau copy cut produk Amerika Serikat. Sebab, meski itu berdampak signifikan pada pertumbuhan ekonomi tapi justru bisa jadi bumerang.

"Nah, ini kan yang kemarin di complain AS, China mencuri teknologi dari AS," lanjutnya.

Bhima lantas menyarankan sebaiknya Indonesia bisa lebih fokus dalam pengoptimalan kegiatan penelitian dan pengembangan (research and development/RnD).

"Kalau imitasi sekarang agak susah (bagi Indonesia). Paling kasih insentif RnD aja untuk dorong inovasi," pungkas dia.