China Investasi Industri Nikel di Konawe Rp 46,86 Triliun

Sebesar 1.200 hektare kawasan industri yang berada di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara atau Kawasan Industri Konawe (KIK) telah dimiliki oleh PT Virtue Dragon Nickel Industri. Perusahaan China ini akan membangun industri nikel di KIK.
Direktur Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri Kementerian Perindustrian (Kemperin), Imam Haryono, mengatakan PT Virtue Dragon Nickel saat ini telah mengantongi perizinan untuk dua fase pembangunan industri nikel di lahan seluas 1.200 hektare. Total investasi dari kedua fase pembangunan tersebut mencapai 3,5 miliar dolar AS (Rp 46,86 triliun).
"Fase pertama seluas 500 hektare dengan investasi senilai 1 miliar dolar AS, yang kedua seluas 700 hektare dengan investasi senilai 2,5 miliar dolar AS," terang Imam, di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (6/7).
Pada fase pertama pembangunan industri Nikel di luas lahan 500 hektare, PT Virtue Dragon Nickel membuat 15 smelter atau pabrik pemurnian nikel berkapasitas 600.000 ribu ton nikel. Sedangkan pada fase kedua seluas 700 hektare akan dibangun lebih dari 15 smelter, karena PT Virtue Dragon akan memproduksi lebih banyak nikel sebanyak 1,2 juta ton dan stainless steel (baja tahan karat) sebanyak 2 juta ton.
"Ini (pembangunan dua fase industri nikel) harus jalan, sementara kawasan industri harus dibangun. Nah Virtue Dragon Nickel sebagai anchor tenant di kawasan industri," terang Imam.
Namun tak sampai disitu PT Virtue Dragon Nickel mengajukan ijin penambahan lahan seluas 1.000 hektare dengan total pengajuan izin pengelolaan lahan seluas 2.200 hektare. Perluasan lahan hingga 2.200 ini kini menjadi permasalahan baru, karena membuat lahan pertanian seluas 500 hektare beralih fungsi menjadi lahan industri.
Menteri Pertanian, Amran Sulaiman telah mengantisipasi perlihan 500 lahan pertanian tersebut dengan menggantinya secara gratis oleh pemerintah. Ia menilai lahan pertanian tersebut kurang begitu produktif karena terdiri dari rawa-rawa.
