Kumparan Logo

China Siap Pererat Kerja Sama Ekonomi dengan Indonesia di APEC 2026

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Chairman of APEC 2026 Senior Officials Meeting, Chen Xu, saat Konferensi Pers Linjia 7 Salon di Beijing, China, Senin (27/4/2026). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Chairman of APEC 2026 Senior Officials Meeting, Chen Xu, saat Konferensi Pers Linjia 7 Salon di Beijing, China, Senin (27/4/2026). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan

Pemerintah China siap menyelenggarakan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) ke-33 dan memperluas serta mempererat kerja sama dengan negara Asia Tenggara, khususnya Indonesia.

Pertemuan pimpinan ekonomi APEC pada November 2026 mendatang akan dipusatkan di Shenzhen dan Guangzhou, Provinsi Guangdong, China. Perhelatan tersebut menandai ketiga kalinya China sebagai tuan rumah.

Chairman of APEC 2026 Senior Officials Meeting sekaligus President China Public Diplomacy Association, Chen Xu, mengatakan bahwa sejauh ini hubungan China dengan Indonesia dalam wadah APEC terjalin erat, dan dirinya pribadi memiliki keterikatan yang cukup dalam dengan Indonesia.

"Saya sangat bangga dengan hubungan kita yang kuat dan terjalin erat di dalam APEC dan di luarnya. Saya baru saja kembali dari Jenewa, saya telah menjalin kerja sama yang sangat erat dan persahabatan pribadi dengan rekan saya dari Indonesia," katanya kepada kumparan usai Konferensi Pers Linjia 7 Salon di Beijing, China, dikutip Kamis (30/4).

Chen menyebutkan bahwa dirinya terkesan dengan momentum yang kuat dan keinginan Indonesia untuk memberikan kontribusi lebih banyak pada APEC, termasuk dalam perhelatan akbar pada tahun ini.

Di sisi lain, dia juga menegaskan bahwa Indonesia merupakan penggerak ekonomi yang sangat penting di Asia Tenggara maupun Asia Pasifik, dan China memerlukan peran yang lebih besar bagi Tanah Air.

"Indonesia adalah pemain yang sangat penting di ASEAN dan juga dalam urusan regional. Kami mengandalkan Indonesia untuk memainkan peran yang lebih besar dalam berbagai isu di kawasan ini dan di luarnya," tegas Chen.

Dorong Penguatan RCEP

Member of the Pacific Economic Cooperation Council, Zhang Jianping, saat Konferensi Pers Linjia 7 Salon di Beijing, China, Senin (27/4/2026). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan

Sementara itu, Member of the Pacific Economic Cooperation Council, Zhang Jianping, mengatakan bahwa saat ini APEC mencakup lebih dari sepertiga dari perjanjian perdagangan bebas global.

Di antara 202 perjanjian yang berlaku, sekitar 36 persen perjanjian perdagangan bebas dimiliki oleh 21 persen dari ekonomi APEC.

"Sebagian besar perjanjian perdagangan bebas ini terjadi di dalam ekonomi APEC," ungkap Zhang dalam paparannya saat konferensi pers.

Zhang melanjutkan, APEC berusaha membuat berbagai perjanjian bilateral antar negara menjadi lebih selaras dan terintegrasi.

Salah satunya melalui Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP), yakni perjanjian perdagangan bebas terbesar di dunia yang mencakup 10 anggota ASEAN dengan China, Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Selandia Baru.

"RCEP mencakup bagian terbesar dari populasi dan ekonomi. Sekitar 30 persen dari populasi tercakup di dalamnya, dan juga lingkungan perdagangan dan domain lainnya menjadi fokus organisasi ini," jelasnya.

Zhang mencatat dari total arus perdagangan China yang mencapai lebih dari USD 6,5 triliun, sekitar 30 persen terjadi dalam kerangka RCEP. Selain itu, ada juga yang masuk dalam kerangka Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP).

Dia menuturkan bahwa terdapat lebih dari 30 bab dokumen dan banyak aturan, standar, serta langkah-langkah dari semua negara dalam CPTPP, termasuk kebijakan pemerintah, pengadaan, manajemen BUMN, perlindungan tenaga kerja, dan perlindungan lingkungan, dan sebagainya.

Di sisi lain, dia juga menyatakan bahwa sekitar 90 persen perjanjian yang dilakukan di RCEP maupun CPTPP dilakukan berdasarkan prinsip perdagangan bebas, sehingga menurutnya akan ada lebih dari satu jalur menuju integrasi ekonomi regional.

Konferensi Pers Linjia 7 Salon terkait APEC 2026 di Beijing, China, Senin (27/4/2026). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan

"Kita harus mendorong penyelarasan APEC dengan penyelarasan RCEP dan CPTPP. Dan jika memungkinkan, penyelarasan tersebut kemungkinan besar akan menjadi jalur menuju integrasi ekonomi regional," tutur Zhang.

Adapun CPTPP merupakan perjanjian perdagangan bebas melibatkan 11 negara di kawasan Asia-Pasifik, yang merupakan evolusi dari TPP setelah Amerika Serikat (AS) mundur.

Anggotanya mencakup Australia, Brunei, Kanada, Chili, Jepang, Malaysia, Meksiko, Selandia Baru, Peru, Singapura, dan Vietnam.

Zhang menilai bahwa pada saat AS dan Jepang mendukung TPP, dia menegaskan bahwa TPP sebagian besar terdiri dari negara-negara maju, sehingga negara-negara berkembang kurang terwakili, termasuk China. Dia menilai RCEP sebagai wadah terbaik untuk terus dikembangkan.

"RCEP lebih merupakan organisasi yang menguntungkan bagi Tiongkok dan Indonesia serta negara-negara berkembang lainnya. Oleh karena itu, negara-negara berkembang lebih memilih perluasan RCEP untuk menjadi bagian dari integrasi ekonomi di kawasan tersebut. Jadi itu adalah pilihan yang baik," ungkapnya.

Kendati begitu, Zhang menyebutkan bahwa Direktur Eksekutif Sekretariat APEC juga mengakui bahwa ada lebih dari satu jalur menuju integrasi ekonomi. Dia berharap KTT APEC ke-33 tahun ini dapat menghasilkan solusi yang konkret.

"RCEP lebih bermanfaat bagi negara-negara berkembang, karena organisasi ini sebagian besar diikuti oleh negara-negara berkembang. Jadi kami berharap dapat mencari titik temu terbesar melalui negosiasi dan menjadikannya bagian penting dari komunitas Asia Pasifik," tandasnya.

instagram embed