Kumparan Logo

Debat Pembangunan Jalan Era SBY, Pengamat: Hanya Soeharto yang Kalahkan Jokowi

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
com-Ilustrasi pembangunan infrastruktur Foto: Dok. Kementerian Pariwisata
zoom-in-whitePerbesar
com-Ilustrasi pembangunan infrastruktur Foto: Dok. Kementerian Pariwisata

Wakil Ketua Bidang Pemberdayaan dan Penguatan Kewilayahan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno mengatakan, pernyataan Bakal Calon Presiden Anies Baswedan yang menyebut pembangunan jalan nasional era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) lebih panjang dari era Jokowi, perlu dikoreksi karena ada jalan yang juga penggantian status, bukan pembangunan baru.

Bahkan jika dibandingkan pembangunan infrastruktur keseluruhan di era Jokowi dan SBY, Djoko menilai Jokowi tidak kalah.

"Kalau kondisi sekarang, jujur saja, kalau bicara infrastruktur yang bisa mengalahkan Pak Jokowi itu 35 tahun Soeharto saja. Pembangunan jalan sampai waduk," kata Djoko kepada kumparan, Senin (29/5).

Djoko mencatat, pembangunan waduk di era SBY hanya satu yakni Waduk Jatigede. Sementara di era Jokowi, ada puluhan waduk dibangun. Tak cuma waduk, pembangunan infrastruktur lain seperti rumah hingga jalan desa, kata Djoko, Jokowi lebih bagus.

"Belum lagi pesantren-pesantren dibangun semua. Itu PUPR. Jalan desa, jelas jalan desa sekarang lebih banyak karena dana desanya lebih tinggi, Rp 1 miliar. Itu rata-rata buat orang Indonesia buat jalan dulu, bagus itu," kata dia.

Pengamat Transportasi Universitas Soegijapranata Semarang Djoko Setijowarno. Foto: Aris Wasita/ANTARA

Selain itu, kata Djoko, era Presiden Jokowi juga mampu menyelesaikan pembangunan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) yang saat ini sudah terbangun 14 PLBN, dan ditargetkan menjadi 15 PLBN di akhir tahun nanti.

"Lalu jalan strategis perbatasan, Jokowi membangun 2.000 km. Tahun ini yang sudah selesai sekitar 400 km. Papua rencananya 4.000 km," pungkasnya.

Anies sebelumnya menilai negara dengan institusi ekonomi yang ekstraktif cenderung abai dengan pelayanan publik dan pembangunan infrastruktur, karena era Jokowi lebih mendorong pembangunan jalan tol berbayar dibanding jalan nasional yang gratis. Hal itu disangkal oleh Djoko.

Presiden Jokowi saat peresmian Jalan Tol Semarang-Demak Seksi II di Gerbang Tol Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Sabtu (25/2/2023). Foto: Laily Rachev/Biro Pers Sekretariat Presiden

"Informasi yang dia dapat masih kurang. Contoh, jalan paralel perbatasan dibangun 1.900 km di Kalimantan. Itu baru selesai 50 persen, tapi targetnya akhir tahun sudah selesai semua termasuk dengan PLBN semua," kata dia.

Menurut Djoko, proyek jalan perbatasan yang dibangun Jokowi akan memudahkan masyarakat di wilayah pinggiran menuju perkotaan. Saat ini, dia mendorong agar Kementerian Perhubungan menyiapkan bus perintis di jalan perbatasan tersebut.

Infrastuktur jalan perbatasan ini menurut Djoko ini sekaligus juga dapat meningkatkan arus perdagangan di wilayah perbatasan.

"Lintas batas negara akan meningkat, perdagangan barang kita juga akan ke sana. Malinau ke Sabah bisa, Malinau ke Brunei bisa. Ini dari Pontianak, Entikong, Kuching, Entikong ke Brunei," pungkasnya.