Defisit Transaksi Berjalan Indonesia Capai 2,4 Miliar Dolar AS

Defisit transaksi berjalan Indonesia mengalami peningkatan pada kuartal I 2017 menjadi 2,4 miliar dolar AS atau 1 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dibandingkan triwulan keempat tahun lalu yang tercatat 2,1 miliar dolar AS atau 0,9 persen terhadap PDB.
Namun, angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencatat defisit transaksi berhalan mencapai 4,7 miliar AS atau 2,1 persen terhadap PDB.
"Defisit transaksi berjalan mengalami peningkatan didorong oleh meningkatnya defisit neraca perdagangan migas dan pendapatan primer," kata Direktur Eksektuf Bank Indonesia, Tirta Segara dalam siaran pers yang dikutip, Minggu (14/5).
Peningkatan defisit neraca perdagangan migas dipengaruhi naiknya harga minyak dunia di tengah penurunan lifting minyak. Sementara kenaikan defisit neraca pendapatan primer mengikuti jadwal pembayaran bunga surat utang pemerintah yang lebih tinggi dan meningkatnya pembayaran pendapatan investasi langsung.
Defisit transaksi berjalan lebih lanjut tertahan oleh kenaikan surplus neraca perdagangan nonmigas yang ditopang meningkatnya ekspor nonmigas sejalan dengan berlanjutnya kenaikan harga komoditas dan menurunnya defisit neraca jasa terutama karena naiknya surplus jasa perjalanan.
Baca juga: Kementerian Keuangan Pastikan Akan Mengajukan APBN Perubahan
Menurut Tirta, perkembangan Neraca Pembayaran Indonesia pada kuartal I tahun ini secara keseluruhan menunjukkan terpeliharanya keseimbangan eksternal perekonomian sehingga turut menopang berlanjutnya stabilitas makroekonomi.
Bank Indonesia terus mewaspadai perkembangan global, khususnya risiko terkait kebijakan bank sentral AS dan faktor geopolitik, yang dapat memengaruhi kinerja neraca pembayaran secara keseluruhan.
Bank sentral optimistis kinerja NPI akan semakin baik didukung bauran kebijakan moneter dan makroprudensial, serta penguatan koordinasi kebijakan dengan Pemerintah, khususnya dalam mendorong kelanjutan reformasi struktural.
Berdasarkan catatan Bank Indonesia, NPI mpara kuartal pertama tahun ini kembali surplus 4,5 miliar dolar AS. Angka ini masih relatif sama seperti yang tercatat pada triwulan sebelumnya, di mana pada triwulan pertama ditahun 2016, Indonesia justru mengalami defisit sebesar 0,3 miliar USD.
Surplus NPI tersebut di triwulan pertama ini pun mendorong peningkatan posisi cadangan devisa dari 116,4 miliar dolar AS pada akhir triwulan ke empat 2016 menjadi 121,8 miliar dolar AS pada akhir triwulan pertama tahun ini.
"Jumlah cadangan devisa tersebut cukup untuk membiayai kebutuhan pembayaran impor dan utang luar negeri pemerintah selama 8,6 bulan dan berada di atas standar kecukupan internasional," jelasnya.
Baca juga: BI Antisipasi Kenaikan Suku Bunga The Fed
Meningkatnya surplus transaksi modal dan finansial sejalan dengan membaiknya pertumbuhan ekonomi dan persepsi positif terhadap prospek perekonomian Indonesia.
Surplus transaksi modal dan finansial pada triwulan pertama tahun ini mencapai 7,9 miliar dolar AS atau lebih besar dibandingkan triwulan IV tahun 2016 sebesar 7,6 miliar dolar AS maupun surplus pada triwulan pertama 2016 sebesar 4,2 miliar dolar AS.
"Peningkatan ini didorong derasnya aliran masuk modal investasi portofolio pada instrumen berdenominasi rupiah (SUN, SPN, dan saham) dan adanya penerbitan sukuk global pemerintahm," kata Tirta.
Peningkatan surplus transaksi modal dan finansial lebih lanjut tertahan oleh penurunan surplus investasi langsung, terutama karena outflow investasi langsung sektor migas dan defisit investasi lainnya khususnya karena penempatan aset sektor swasta di luar negeri.
