Derita Peternak Ayam Petelur: Harga Pakan Mahal Tapi Harga Telur Anjlok
·waktu baca 2 menit

Para peternak ayam layer atau ayam petelur bingung dan pasrah menghadapi permasalahan yang mereka hadapi saat ini. Telur yang mereka produksi anjlok di level Rp 15.000 per kilogram (kg), padahal biaya produksi atau Harga Pokok Produksi (HPP) mencapai Rp 20.500 per kg.
Sementara itu, harga pakan terus melambung sejak awal tahun yang berada di posisi Rp 6.500 per kg. Normalnya harga pakan berkisar di Rp 5.000 per kg.
“Harga pakan mahal sekali. Rata-rata makan itu Rp 6.500 per kilo. Harga katul mahal, harga jagung mahal, konsentrat mahal. Harga normal Rp 5.000 per kilo,” kata Ketua Koperasi Peternak Unggas Sejahtera (Koperasi Putera) Blitar Sukarman kepada kumparan, Selasa (31/8).
Sukarman menjelaskan, anjloknya harga telur terjadi sejak dua minggu lalu. Salah satu faktor yang membuat harga telur terjun bebas yaitu produksi yang berlebih. Sementara pasar tradisional masih sepi akibat PPKM, di samping itu daya beli masyarakat melemah.
“Daya beli masyarakat lemah, banyak pengangguran susah. Usaha susah daya beli masyarakat lemah.” tutur Sukarman.
Menurutnya, surat edaran dari Kementerian Pertanian untuk mengurangi produksi bibit ayam atau DOC (Days Old Chicken) turut membuat harga telur di pasar makin hancur. Sebab, sebagian telur bibit yang seharusnya tidak diperbolehkan untuk dijual, bocor di pasaran.
“Itu yang secara siluman beredar di pasar. Memperparah harga,” katanya.
Hingga kini peternak terus mengalami kerugian Rp 4.000 setiap kilonya. Untuk mengatasi anjloknya harga telur, Sukarman menyarankan supaya telur masuk dalam bantuan sosial (bansos) untuk masyarakat. Tujuannya untuk mengerek permintaan dan harga telur di pasaran.
Pemerintah telah mengatur harga jual telur melalui Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 7 tahun 2020 tentang Harga Acuan Penjualan di tingkat Petani dan Harga Acuan Penjualan di Tingkat Konsumen. Aturan tersebut menetapkan harga batas atas pembelian di peternak Rp 21.000 per kg.
