Kumparan Logo

Di Tengah Kontroversi Kartu Merah AS, FIFA Era Infantino Raup Pendapatan Besar

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Presiden FIFA Gianni Infantino menyampaikan keterangan kepada wartawan saat sehari menjelang pembukaan Piala Dunia 2026 di Stadion Azteca, Mexico City, Meksiko, Rabu (10/6/2026). Foto: Aditya Pradana Putra/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Presiden FIFA Gianni Infantino menyampaikan keterangan kepada wartawan saat sehari menjelang pembukaan Piala Dunia 2026 di Stadion Azteca, Mexico City, Meksiko, Rabu (10/6/2026). Foto: Aditya Pradana Putra/ANTARA FOTO

FIFA mendapat banyak sorotan dalam Piala Dunia 2026, mulai soal kontroversi kartu merah tim nasional Amerika Serikat (AS) sampai pengucilan tim nasional Iran. Meski demikian, FIFA di era Gianni Infantino merupakan masa di mana organisasi tersebut meraup pendapatan besar.

Dikutip dari Bloomberg pada Kamis (9/7), di bawah kepemimpinan Infantino yang kini berusia 56 tahun, FIFA diperkirakan akan meraup sekitar USD 9 miliar secara langsung dari Piala Dunia 2026 atau sekitar USD 2 miliar lebih banyak dibandingkan Piala Dunia 2022 di Qatar.

Selain itu, Piala Dunia edisi ini juga memperluas jumlah peserta dari 32 menjadi 48 tim. Total hadiah meningkat dua kali lipat hingga mencapai rekor USD 871 juta. Dengan begitu, setiap negara peserta dijamin menerima sedikitnya USD 12,5 juta hanya karena berpartisipasi.

Hal ini menunjukan perubahan dari satu dekade lalu saat FIFA identik dengan skandal setelah kasus korupsi yang diusut jaksa. Saat Infantino memimpin FIFA, ia melakukan berbagai reformasi, sedikit meningkatkan transparansi, serta memperluas ukuran dan cakupan turnamen-turnamen FIFA termasuk Piala Dunia antar klub yang sangat menguntungkan.

Walau demikian, ia juga disebut membawa FIFA kembali ke jalur yang sudah tidak asing, yakni mencampurkan kepentingan uang, kekuasaan, dan politik.

Infantino akan kembali mengikuti pemilihan Presiden FIFA pada awal 2027 dalam Kongres FIFA ke-77 di Rabat, Maroko, salah satu negara tuan rumah Piala Dunia berikutnya. Masing-masing dari 211 asosiasi anggota FIFA memiliki satu suara.

Para pendukung Tim Nasional Inggris di Piala Dunia 2026. Foto: Chris Radburn/REUTERS

Tak Hanya FIFA yang Raup Untung

Kini, piala dunia juga menjadi ladang keuntungan bagi semua pihak yang terlibat. Selain pendapatan FIFA, perusahaan besar yang mengelola penjualan makanan dan minuman di stadion turut menikmati lonjakan pendapatan.

Di beberapa stadion, pengeluaran penonton selama pertandingan bahkan mencapai USD 100 per orang atau hampir dua kali lipat dibandingkan rata-rata pengeluaran penonton dalam pertandingan NFL.

Selain itu, para pihak yang menaruh iklan juga diuntungkan oleh aturan jeda minum wajib yang pada praktiknya membuat pertandingan sepak bola yang biasanya berlangsung dalam dua babak terasa seperti pertandingan olahraga AS dengan empat kuarter.

Di samping itu, kota-kota tuan rumah yang sebelumnya mengeluhkan tingginya biaya penyelenggaraan kini mulai merasakan manfaat ekonomi.

Data Bank of America untuk periode 10-21 Juni menunjukkan transaksi kartu kredit dan debit di kota-kota tuan rumah Piala Dunia meningkat 6,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, belanja oleh pengunjung dari luar daerah melonjak 16,7 persen.

Penyerang timnas Amerika Serikat, Folarin Balogun, melakukan selebrasi setelah mencetak gol pertama dalam pertandingan babak 32 besar Piala Dunia 2026 melawan Bosnia dan Herzegovina di Stadion San Francisco Bay Area, California, Rabu (1/7/2026). Foto: Phil Noble/REUTERS

Sedang dalam Kontroversi

Dalam beberapa hari terakhir, kemarahan terhadap FIFA memang sedang mencapai puncaknya ketika FIFA mengizinkan seorang pemain bintang AS yang sedang menjalani hukuman kartu merah. Keputusan tersebut diambil setelah adanya tekanan dari Trump dan memicu kecaman dari hampir semua pihak di luar Amerika Serikat.

"Persoalannya bukan lagi sekadar apakah kartu merah awal itu memang pantas diberikan. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah FIFA telah merusak integritas Piala Dunia sekaligus kewibawaannya sendiri sebagai regulator sepak bola dunia,” kata Nick De Marco, pengacara olahraga asal Inggris.

Dengan situasi itu, FIFA dinilai memang menghadapi dilema antara kedekatannya dengan kekuasaan dan uang di satu sisi serta tanggung jawabnya untuk menegakkan aturan dan regulasi sepak bola di sisi lain. Dalam praktiknya, kepentingan finansial dilihat lebih dominan.