Kumparan Logo

Dibantu Kementan, Lahan Rawa di Kalimantan Disulap Jadi Produktif

kumparanBISNISverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tanaman tomat intan yang dikembangkan di bekas lahan rawa lebak di Desa Jejangkit Muara, Kalimantan Selatan. Foto: Maulana Ramadhan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Tanaman tomat intan yang dikembangkan di bekas lahan rawa lebak di Desa Jejangkit Muara, Kalimantan Selatan. Foto: Maulana Ramadhan/kumparan

Program Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani (SERASI) yang digagas Kementerian Pertanian (Kementan) menunjukkan hasil positif. Dalam satu tahun, petani di Kalimantan Selatan mampu tiga kali panen di lahan rawa yang sebelumnya tidak produktif. Pengalaman ini diceritakan salah satu petani di Kabupaten Barito Kuala.

"Syukur tahun ini kami bisa panen tiga kali. Kami sangat berterima kasih dengan adanya program ini di wilayah kami," kata dua orang petani Desa Kolam Kiri Dalam, Kecamatan Barambai, Kabupaten Barito Kuala, Kalsel, Hamid dan Purwanto dalam keterangan tertulis Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian Kementan, Senin (19/8).

SERASI merupakan program optimalisasi lahan rawa seluas 500 ribu hektare. Ini merupakan program andalan Kementan tahun ini. Saat ini terdapat tiga provinsi yang menjadi wilayah pengembangan SERASI, yakni Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, dan Sulawesi Selatan.

Program SERASI di Kalimantan Selatan ditargetkan menjangkau lahan 120 ribu hektare yang meliputi delapan kabupaten yakni Banjar, Tanah Laut, Barito Kuala, Tapin, Hulu Sungai Selatan, Tabalong, Hulu Sungai Tengah dan Hulu Sungai Utara. Saat ini tiga kabupaten telah sampai pada aktivitas konstruksi dan mulai penanaman, tepatnya di Banjar, Tanah Laut, dan Barito Kuala.

"Program SERASI di Desa pak Hamit dimulai Mei 2019 ini telah menyelesaikan normalisasi saluran utama, optimalisasi saluran tersier, membangun pintu air, membangun gorong-gorong dan saluran konektor dengan total luas sawah yang aliri mencapai 300 hektare," ujar Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian, Sarwo Edi.

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian, Sarwo Edi (kiri). Foto: Dok. Kementan

Dalam diskusi dengan para petani, Sarwo Edi mengharapkan lahan sawah terus ditanam tiga kali dalam setahun. Terlebih dengan modernisasi pertanian seperti dengan menggunakan traktor roda dua, traktor roda empat, cultivator, transplanter, pompa air, hand sprayer, powertrasher, combine harvester, dryer, RMU serta alat lainnya telah menyentuh langsung ke lapangan.

"Saya harap program ini terus berjalan dengan baik. Bantuan alat ini merupakan stimulus untuk meningkatkan produktivitas yang akhirnya meningkatkan kesejahteraan petani," ujar Sarwo Edi memotivasi.

Dirinya mengatakan bahwa dengan pengolahan tanah yang baik, tanam serentak dengan benih berlabel dan irigasi yang lancar mendukung produksi. Jika telah selesai panen serempak, petani diminta segera melakukan olah tanah dan tanam kembali.

"Untuk itu peranan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), Pengawas Organisme Pengganggu Tanaman (POPT), dan aparat pertanian lain perlu ditingkatkan. Pembinaan dan pendampingan harus terus dilakukan agar kegiatan tanam ini terus menghasilkan," lanjutnya.

Sarwo Edi juga mengingatkan agar semua aktivitas dijalankan paralel untuk mencapai penyelesaian tepat waktu. Petani juga disarankan memanfaatkan dana yang telah dicairkan, melalui penggunaan alat ekskavator maupun padat karya.

"Manfaatkan tenaga kerja petani untuk secara bersama-sama menyelesaikan pekerjaan. Saya juga mengimbau Dinas Pertanian, Gapoktan dan UPKK, mampu menyelesaikan administrasi dengan cepat, tepat dan sesuai aturan yang ada," tekan Sarwo Edi.