Dirut PLN Sebut Mahalnya LNG Jadi Sinyal Bahaya Ketergantungan Energi Impor
·waktu baca 2 menit

Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo menyebut lonjakan harga gas alam cair atau LNG global menjadi wake up call atau sinyal bahaya terkait ketergantungan terhadap energi impor. Hal ini disampaikan Darmawan seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik yang berdampak langsung pada harga energi dunia.
Menurut Darmo, harga minyak dunia sempat menembus di atas USD 100 per barel, yang kemudian turut mendorong kenaikan harga gas. Dia menekankan harga LNG memiliki korelasi dengan pergerakan harga minyak global.
PLN mencatat, harga LNG di pasar spot saat ini telah mencapai sekitar USD 19 hingga USD 20 per MMBTU. Jika dikonversikan ke biaya produksi listrik, angka tersebut setara dengan hampir 14 sen dolar AS per kWh hanya untuk komponen bahan bakar.
“Beruntung kami mendapatkan alokasi gas dari negara yang harganya sudah dikunci. Tapi kalau kami butuh ekstra kargo LNG dari spot market, ya saat ini USD 20 per MMBTU,” kata Darmo dalam rapat dengan Komisi XII DPR RI di Gedung DPR MPR RI, Senayan Jakarta, Senin (13/4).
Terlebih menurut dia, kondisi pasokan global juga tengah tertekan. Salah satunya disebabkan oleh gangguan produksi di Qatar yang mencapai sekitar 5 juta ton per tahun dan diperkirakan membutuhkan waktu hingga 5 tahun untuk pulih.
“Jadi geopolitiknya gimana? Ini wake up call, energi berbasis pada impor, begitu kami cek di Japan Korean Market LNG harganya USD 9 dolar, masih mungkin kami mendapatkan kargo tersebut. Tapi untuk hari ini, alhamdulillah alokasi dari pemerintah cukup sehingga kami tidak perlu impor LNG, kalau kami harus impor, rasanya berat,” jelasnya.
Dari sisi operasional, Darmawan mengungkapkan cadangan gas untuk pembangkit listrik saat ini berada di kisaran 12 hari operasi (HOP). Angka ini mencerminkan pengiriman LNG telah terjadwal dengan baik dan tidak mengalami kendala berarti.
Sementara itu, kondisi sistem kelistrikan nasional hingga Maret 2026 masih dalam kondisi normal. Daya mampu netto tercatat sebesar 71 gigawatt dengan reserve margin sekitar 39 persen, sehingga pasokan listrik dinilai andal untuk mendukung kebutuhan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi.
Untuk pasokan batu bara, hingga April 2026 cadangan tercatat mencapai 15,9 hari operasi. “Untuk itu kami juga mengapresiasi dukungan dari kementerian ESDM agar tren HOP batubara terus menunjukkan peningkatan dan ini tentu saja dalam rangka memperkuat keandalan pasokan listrik nasional,” tutupnya.
