Disetop Sementara, Proyek Kereta Cepat Bikin Banjir hingga Kebakaran Pipa BBM

Proyek kereta cepat Jakarta-Bandung dihentikan sementara oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) selama 2 minggu sejak 2 Maret 2020.
Manajemen proyek kereta cepat dinilai kurang baik sehingga pemerintah menjatuhkan sanksi. Salah satu alasan proyek dihentikan adalah karena menyebabkan banjir.
Tak hanya menjadi penyebab banjir, berdasarkan catatan kumparan, beberapa masalah pernah ditimbulkan oleh proyek kereta cepat. Mulai dari jatuhnya crane hingga membuat pipa PPM meledak. Berikut rangkumannya:
Crane Jatuh di Matraman dan Tewaskan 4 Pekerja
Pada 4 Februari 2018, crane untuk pembangunan double double track (DDT) di Matraman jatuh dan menewaskan 4 orang pekerja. DDT tersebut termasuk dalam jalur kereta cepat Jakarta-Bandung di jalur Manggarai-Jatinegara. Proyek dihentikan sementara sesaat setelah kejadian.
Kecelakaan terjadi sekitar pukul 05.00 WIB, bermula saat pekerja sedang menaikkan bantalan rel dengan menggunakan alat berat jenis crane. Kemudian, saat bantalan rel sudah berada di atas, rupanya dudukan tidak pas sehingga jatuh menimpa pekerja.
Menurut kesaksian seorang warga yang juga Ketua RW 006, Muhammad Alwi, peristiwa ambruknya crane itu terjadi sekitar pukul 05.30 WIB.
Peristiwa yang menewaskan 4 orang ini sempat mengagetkan warga sekitar lokasi kejadian. Keempat korban tewas, yakni Jaenudin (44), Dami Prasetyo (25), Jana Sutisna (44), dan Joni (34), seluruhnya pekerja dalam konstruksi tersebut.
Pipa BBM di Pinggir Tol Cileunyi Terbakar
Pada 22 Oktober 2019, terjadi kebakaran pipa BBM milik Pertamina di Jalan Sukahaji, Kelurahan Melong, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Jawa Barat. Lokasi terbakarnya pipa BBM milik Pertamina berada di lokasi pengerjaan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung.
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi langsung meminta pemetaan ulang mengenai jalur infrastruktur di area itu. Menurutnya, selama ini pemetaan masih belum komprehensif.
"Kita akan petakan. Ini kan pemetaannya yang tidak komprehensif. Jadi kita minta kontraktor, minta kepada Pertamina, PLN, ada jalur infrastruktur yang ada dan itu akan dijadikan pola kerja,” ujar Budi Karya.
Pihaknya khawatir peta-peta pada jalur tersebut tak ada. Untuk itu, pihaknya akan segera melakukan koordinasi dan mengumpulkan seluruh stakeholder untuk membahas lebih lanjut mengenai hal tersebut.
“Saya khawatir peta-peta daripada jaringan itu tidak ada. Jadi nanti ada rapat koordinasi peta jaringan dipetakan, dia baru bekerja sesuai dengan itu,” katanya.
Picu Banjir di Tol Jakarta-Cikampek
Banjir sempat merendam tol Jakarta-Cikampek KM 24 di sekitar Cibitung, hingga menyebabkan arus kendaraan ke arah Jakarta berhenti total hingga puluhan kilometer. Kementerian Perhubungan mengungkapkan, proyek kereta cepat jadi pemicu banjir pada 1 Januari 2020 itu.
Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, Budi Setyadi, menyatakan pengerjaan proyek Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) membuat saluran air di ruas tol itu tersumbat.
“Tadinya saluran air bagus tapi kemudian ditutup untuk jalan kerja mobilisasi alat berat dan sebagainya. Itulah dampaknya, kemarin (banjir) seperti itu. Jadi Pak Menteri PU juga sudah menyampaikan dan kemarin saya langsung memimpin rapat di sana sudah mempertemukan antara KCIC kemudian dari WIKA, kemudian Waskita Karya sebagai kontraktornya,” katanya.
Menurutnya, dari rapat itu sudah ditetapkan langkah tindak lanjut untuk mencegah terjadinya kasus banjir serupa. Para pihak yakni proyek KCIC, serta para kontraktor seperti WIKA dan Waskita Karya sudah diminta mengatasi tersumbatnya saluran air tersebut.
Mengutip penjelasan Corporate Communication & Community Development Group Head PT Jasa Marga (Persero) Tbk, Dwimawan Heru, selain di KM 24 banjir di ruas Tol Jakarta-Cikampek juga terjadi di KM 17, 19, 21, serta 26 dan 27.
Dari pantauan kumparan, hingga 2 Januari 2020 banjir menyebabkan arus kendaraan ke arah Jakarta berhenti total. Padahal saat itu merupakan arus balik libur Natal 2019 dan Tahun Baru 2020. Untuk sampai ke Jakarta, sejumlah pengendara butuh waktu hingga belasan jam.
