Kumparan Logo

Ekonomi Tumbuh 7,07 Persen: Ramalan Jokowi dan Banyak yang Tak Percaya

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

Presiden Jokowi di sela-sela peluncuran paket obat isoman di Istana Merdeka, Kamis (15/07/2021). Foto: Dok. Agus Suparto
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Jokowi di sela-sela peluncuran paket obat isoman di Istana Merdeka, Kamis (15/07/2021). Foto: Dok. Agus Suparto

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekonomi Indonesia tumbuh 7,07 persen di kuartal II 2021 secara year on year (yoy). Itu artinya, Indonesia resmi keluar dari jurang resesi sejak ekonomi nasional terpuruk akibat corona tahun lalu.

Pertumbuhan ekonomi tersebut sebenarnya sudah diperkirakan oleh Presiden Joko Widodo. Namun, sampai perkiraan itu terwujud masih ada pihak yang tidak percaya.

Berikut ini selengkapnya mengenai hal tersebut:

Ramalan Jokowi

Data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II 2021 sebesar 7,07 persen secara tahunan membuktikan keyakinan Presiden Jokowi, yang disampaikan saat membuka Munas VIII Kadin di Kendari.

“Kita semua masih optimistis bahwa di kuartal II, meskipun kuartal I minus 0,74 persen tapi di kuartal II kita masih optimistis ekonomi tumbuh Insyaallah 7 persen,” kata Jokowi di Kendari, Sulawesi Tenggara, Rabu (30/6).

Bukan tanpa data dan penjelasan, Jokowi menyodorkan keyakinan tersebut. Setidaknya, pada kuartal II 2021 lalu ada empat indikator yang menunjukkan perbaikan ekonomi nasional.

Pertama, Purchasing Manager's Index (PMI) manufaktur per Mei 2021 ada di level 55,3. Ini merupakan rekor tertinggi sepanjang sejarah. Posisi ini naik berturut-turut dari Maret 2021 (53,2), lalu April (54,6). PMI merupakan hasil survei terhadap sejumlah purchasing manager's berbagai sektor bisnis. Posisi PMI yang tinggi menunjukkan belanja barang modal dan bahan baku yang tinggi.

Kedua, perdagangan internasional Indonesia disebut Jokowi menunjukkan peningkatan pesat. Mengutip data BPS, menurutnya ekspor Indonesia pada Mei 2021 tumbuh 58 persen, impor bahan baku tumbuh 79 persen, dan impor barang modal tumbuh 35 persen.

Ketiga, konsumsi barang modal juga menunjukkan kenaikan. Seperti konsumsi listrik untuk industri, menurut Jokowi tumbuh 28 persen. Demikian juga konsumsi semen tercatat tumbuh 19,2 persen, yang menunjukkan geliat di sektor properti dan infrastruktur. Sementara penjualan kendaraan niaga tumbuh 783 persen, mengindikasikan peningkatan di sektor transportasi dan logistik.

Keempat, Jokowijuga mengungkap data-data soal membaiknya konsumsi masyarakat. Hal ini menurutnya terlihat dari Indeks Kepuasan Konsumen (IKK) yang naik ke level 104,4 pada Mei 2021 dari sebelumnya di level 85 pada Februari 2021. Termasuk juga indeks mobilitas bulanan, pada Februari lalu masih minus 2, namun di Mei sudah di posisi 5,2. Begitu pula dengan indeks penjualan ritel yang tercatat tumbuh 12,9 persen.

kumparan post embed

Banyak yang Tak Percaya

Di tengah prestasi ini, banyak pihak yang tak percaya mengenai pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa melesat sedemikian rupa bahkan menjadi yang tertinggi sejak 2004. Mengapa demikian?

Kepala Ekonom Bank Central Asia, David Sumual, mengatakan ekonomi RI bisa tumbuh 7,07 persen pada paruh kedua tahun ini seperti perkiraan banyak orang, karena secara year on year kuartal II 2020 Indonesia berada pada kondisi terpuruk, minus 5,3 persen. Setelah itu, pemerintah mulai menyiasatinya dengan menggenjot penyerapan anggaran seperti belanja antar kementerian/lembaga dan THR agar konsumsi naik.

"Tahun lalu kan kita PSBB ketat di kuartal. Jadi April-Mei itu 2020 masa paling dalam keterpurukan kita. Jadi transaksi ekonomi, mobilitas, kegiatan logistik, dan lainya turun drastis," kata dia saat dihubungi kumparan, Kamis (5/8).

Secara kuartalan, menurut David, pertumbuhannya juga bagus yang juga ditopang dengan harga sejumlah komoditas dan ekspor yang naik di luar dugaan.

Kondisi ini, mirip dengan ekonomi China yang ketika dihantam corona anjlok, namun setelah itu meroket 18 persen. Karena itu, menurutnya perkiraan ekonomi Indonesia bisa meroket di kuartal II 2021 ini sesuai dengan prediksi banyak pihak.

Tahun ini, pemerintah menganggarkan THR Rp 30,8 triliun yang tak hanya dibagikan ke PNS serta anggota TNI/Polri, namun juga Presiden Jokowi hingga para anggota DPR.

Meski begitu, capaian pertumbuhan ekonomi kuartal II 2021 ini harus disikapi dengan hati-hati. Ekonom Bahana Sekuritas Putera Satria Sambijantoro mengatakan pertumbuhan yang disampaikan BPS ini bersifat statistik.

Dia menyebut, pertumbuhan ekonomi kuartal II 2021 ini ditopang oleh konsumsi dan investasi. Pemerintah menggelontorkan banyak anggaran agar daya beli masyarakat tetap terjaga di masa pandemi.

Dari sisi investasi, anggaran yang dikeluarkan pemerintah juga cukup kuat, terutama untuk anggaran belanja modal dan infrastruktur yang biasanya dampaknya terlihat pada kuartal selanjutnya.

kumparan post embed