Kumparan Logo

Emas dan IHSG Naik Turun, Ini Strategi Investasi dari Perencana Keuangan

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi potensi investasi Foto: Natee K Jindakum/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi potensi investasi Foto: Natee K Jindakum/Shutterstock

Harga emas dunia terus mengalami fluktuasi dalam beberapa waktu terakhir. Harga emas dunia turun lebih dari 3 persen pada hari Rabu (10/6) imbas perang di Timur Tengah.

Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga menunjukkan volatilitas yang cukup tinggi. Setelah sempat merosot 8,69 persen dalam sepekan pada pekan sebelumnya, IHSG berhasil berbalik arah dan menguat 7,38 persen hingga penutupan perdagangan pekan ini.

Perencana keuangan, Mike Rini, menilai fluktuasi harga emas maupun IHSG merupakan hal yang wajar dan akan selalu terjadi dari waktu ke waktu.

Menurutnya, pergerakan harga dalam jangka pendek tidak seharusnya dijadikan dasar utama dalam mengambil keputusan investasi jangka panjang karena kedua instrumen tersebut memang memiliki karakteristik volatilitas dalam periode harian, mingguan, bulanan, hingga tahunan.

“Tetapi kalau kita lihat dalam jangka panjang 3, 5, 10 tahun walaupun dalam jangka pendek dia mengalami fluktuasi namun dalam jangka panjang kalau kita lihat trend-nya baik saham maupun emas itu dia memperlihatkan trend peningkatan nilai. Jadi, ada potensi investment growth dalam jangka panjang,” kata Mike saat dihubungi kumparan, Sabtu (13/6).

Mike menambahkan, strategi investasi yang efektif sebaiknya didasarkan pada tujuan keuangan dan profil risiko masing-masing investor. Selain itu, diversifikasi perlu diterapkan untuk meminimalkan risiko sekaligus mengoptimalkan potensi imbal hasil.

Menurutnya, fluktuasi pasar justru dapat dimanfaatkan sebagai momentum untuk memperoleh keuntungan. Dalam kondisi pelemahan rupiah yang masih berlangsung, investor dapat mempertimbangkan diversifikasi ke saham internasional selain saham domestik.

instagram embed

“Saham domestiknya bisa untuk total saham untuk profil moderat bisa mungkin 50-60 persen barangkali dengan saham domestik mungkin 40 persennya dari yang 50-60 tadi sehingga sisanya di saham internasional itu bisa begitu,” jelas Mike.

Selain saham, ia menyarankan investor menempatkan 20 hingga 30 persen portofolio pada instrumen pendapatan tetap seperti obligasi pemerintah maupun obligasi korporasi.

“Obligasi yang dipilih mungkin bisa kombinasi nih obligasi pemerintah, obligasi korporat atau kalau memang lebih mengutamakan yang risikonya lebih kecil bisa lebih fokus di obligasi pemerintah misalnya dengan porsi 20-30 persen tadi,” lanjut Mike.

Mike juga menilai emas tetap penting sebagai aset defensif dengan alokasi sekitar 10-15 persen dari total portofolio. Sementara itu, sisa dana dapat ditempatkan pada instrumen kas atau setara kas yang likuid, seperti deposito dan reksa dana pasar uang, sekitar 10 persen.

“Itu portfolio yang terdiversifikasi dengan seimbang untuk kategori profil risiko investor yang moderat,” tutur Mike.

Perencana keuangan, Andy Nugroho, menilai pelemahan harga emas global dalam beberapa hari terakhir yang diiringi penguatan IHSG dan rupiah belum mengubah strategi investasi secara signifikan. Katanya, ketidakpastian masih tinggi karena perang di Timur Tengah belum sepenuhnya berakhir.

“Namun memanfaatkan momentum ini, kita juga tetap bisa mengambil kesempatan untuk mendapatkan cuan,” ungkap Andy.

Andy menjelaskan, komposisi investasi ideal tetap harus disesuaikan dengan profil risiko masing-masing investor.Untuk investor agresif, ia menyarankan alokasi sekitar 50 persen pada saham dan 20 persen pada emas. Bagi investor dengan profil risiko moderat, porsi saham dan emas masing-masing dapat mencapai 30 persen.

“Investor konservatif, bisa saham 10 persen, emas 40 persen,” sebut Andy.

Disclaimer: Keputusan investasi sepenuhnya didasarkan pada pertimbangan dan keputusan pembaca. Berita ini bukan merupakan ajakan untuk membeli, menahan, atau menjual produk investasi tertentu.