Erick Thohir Buka Suara soal BSI Bakal Spin Off dari Bank Mandiri

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir membenarkan bahwa PT Bank Syariah Indonesia (BSI) Tbk (BRIS) akan melepaskan diri alias spin off dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI).
Bank Mandiri merupakan pemegang saham mayoritas di BSI dengan porsi sebesar 51,47 persen. Selain Bank Mandiri, PT Bank Negara Indonesia (BNI) dan PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) juga memiliki saham di BSI masing-masing dengan porsi 23,24 persen dan 15,38 persen. Saham BSI juga dimiliki oleh publik sebesar 9,91 persen.
Rencana spin off tersebut menyusul wacana BSI yang akan diakuisisi oleh Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia. Erick menyebutkan, aksi korporasi tersebut masih dalam proses kajian internal Danantara.
"Belum, masih proses. Kan nanti dari Danantara akan mengajukan ke kami, baru kita lihat seperti apa prospeknya," kata Erick kepada awak media di Istana Negara sebelum rapat terbatas, Senin (2/6).
Erick membenarkan saat ditanya terkait BSI yang akan dikelola langsung oleh BPI Danantara. Namun, hal tersebut masih dalam kajian, sementara dirinya sebagai regulator hanya bisa menunggu.
"Iya (BSI di bawah langsung Danantara) Nanti ada kajian dari mereka, kan sekarang posisi saya sebagai regulator," tambahnya.
Adapun BSI baru saja melaksanakan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 16 Mei 2025 lalu. Pemegang saham menunjuk Anggoro Eko Cahyo menjadi Direktur Utama BSI, menggantikan Hery Gunardi yang diangkat menjadi Dirut PT Bank Rakyat Indonesia (BRI). Selain itu, pemegang saham juga menunjuk Muhadjir Effendy sebagai Komisaris Utama BSI.
Sebelumnya, CEO Danantara, Rosan Roeslani, menegaskan komitmennya memperkuat sinergi antara BUMN dan perbankan syariah, terutama dengan Bank Syariah Indonesia (BSI), guna mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Kerja sama tersebut, kata Rosan, dikhususkan untuk penguatan inklusi syariah, jalur distribusi, serta pengembangan sumber daya manusia.
“Di BUMN banyak program-program syariah lainnya yang bisa dikerjasamakan… Ada insurance, itu bisa dikerjasamakan, di distribusinya dengan perbankan juga hingga capital market mungkin selama ini belum bergabung kita akan duduk bareng untuk bisa dikerjasamakan,” ucap dia di acara BSI Global Islamic Finance Summit 2025 di Jakarta, Selasa, (29/4).
Menurut Rosan, peran BSI sangat besar dan signifikan terhadap ekonomi syariah nasional karena market share BSI mencapai 50 persen di industri perbankan syariah. Saat ini, pangsa pasar perbankan syariah masih berada di kisaran 9 persen dari total industri perbankan nasional, sehingga peluang untuk tumbuh ke depannya masih sangat luas.
“Kalau kita lihat memang itu sangat-sangat kecil, jika dibandingkan dengan penduduk Indonesia yang 87 persennya itu orang muslim. Jadi, tentunya harapan kita ke depan seluruh perbankan syariah dan terutama BSI, bisa terus meningkatkan pangsa pasarnya,” kata Rosan.
Di sisi lain, Rosan meyakini bahwa perbankan syariah memiliki potensi besar dalam mendorong inklusi keuangan, yang saat ini baru mencapai 12,7 persen. Rosan pun berharap ekonomi syariah dapat memainkan peran yang lebih signifikan dalam mendukung PDB Indonesia, baik dari sisi konsumsi maupun investasi.
