Kumparan Logo

Erick Thohir: RI Diramal Runtuh Karena Corona, Tapi Neraca Dagang Malah Bagus

kumparanBISNISverified-green

comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri BUMN Erick Thohir. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menteri BUMN Erick Thohir. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan Indonesia pernah diramal menjadi salah satu negara yang runtuh akibat pandemi virus corona. Dia mengaku optimistis jika ramalan itu meleset.

Menurut Erick, virus corona memang membuat banyak negara terdampak secara ekonomi. Namun menurut dia, berdasarkan laporan BPS neraca perdagangan Indonesia cukup positif.

"Banyak yang memperkirakan ketika COVID-19, kita salah satu negara yang runtuh duluan. Tapi kalau lihat hasil BPS hari ini sudah diumumkan positif kita, bukan ekonomi tapi antara ekspor dan impor malah membaik," kata Erick saat pencanangan transformasi Sarinah yang ditayangkan secara virtual, Selasa (18/8).

Erick mengatakan, selama ini di masyarakat sudah tergambarkan jika Indonesia sering memilih impor barang dari luar negeri ketimbang mengekspor produk. Kondisi tersebut ternyata tidak terbukti karena saat virus corona berlangsung kondisinya berbalik.

"Selama ini di benak kita harus impor, impor terus. Padahal dengan COVID-19 ternyata defisit anggaran kita yang jelek jadi bagus sekarang dan enggak bubar juga ini negara, enggak kelaparan juga ini negara," katanya.

Erick menjelaskan kondisi saat COVID-19 bukan berarti Indonesia anti bekerja sama dengan negara lain. Akan tetapi, kata Erick, kerja sama yang dibangun harus saling menguntungkan antara kedua belah pihak.

Alat berat mengangkut tangki di Terminal 3 Tanjung Priok, Jakarta. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

BPS melaporkan neraca perdagangan selama Juli 2020 surplus USD 3,26 miliar, jauh lebih tinggi dibandingkan Juni 2020 yang mencatatkan surplus USD 1,25 miliar, maupun Juli 2019 yang defisit USD 280 juta.

Secara kumulatif sejak Januari-Juli 2020, neraca dagang RI surplus USD 8,75 miliar. Angka ini juga jauh lebih besar dibandingkan periode yang sama tahun 2019 yang mencatatkan defisit USD 2,15 miliar.

"Alhamdulillah Juli ini kita surplus USD 3,3 miliar dan surplus ini didominasi oleh nonmigas" ujar Kepala BPS Suhariyanto saat video conference, Selasa (18/8).

Secara rinci, nilai ekspor selama periode Juli 2020 tercatat senilai USD 13,73 miliar, naik 14,33 persen dibandingkan bulan sebelumnya (mtm).

Namun turun 9,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu (yoy). Sementara itu, impor tercatat sebesar USD 10,47 miliar, turun 2,73 persen (mtm) dan anjlok 32,55 persen (yoy).