Kumparan Logo

Fadli Zon Heran, Utang Garuda Capai Rp 70 Triliun dan PLN Rp 500 Triliun

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Fadli Zon saat menghadiri peluncuran buku di pressroom DPR, Jakarta, Jumat (27/9/2019). Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Fadli Zon saat menghadiri peluncuran buku di pressroom DPR, Jakarta, Jumat (27/9/2019). Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan

Anggota DPR Fadli Zon menyoroti utang PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk yang menggunung. Utang yang saat ini ditanggung membuat maskapai penerbangan milik negara tersebut terancam bangkut.

Fadli Zon mengaku geram dengan persoalan keuangan yang saat ini harus dihadapi Garuda.

“Ambruknya keuangan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, yang tengah menjadi sorotan belakangan ini, terus terang membuat kita geram. Maskapai berusia 72 tahun ini terjerat lilitan utang menggunung dan menderita kerugian cukup besar,” kata Fadli Zon melalui pesan tertulis yang diterima kumparan, Kamis (10/6).

Pesawat Garuda Indonesia di Bandara Soekarno Hatta. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Fadli Zon mengungkapkan saat ini Garuda tercatat memiliki utang USD 4,9 miliar atau setara Rp 70 triliun. Angka tersebut meningkat sekitar Rp 1 triliun setiap bulannya jika Garuda terus menunda pembayaran kepada pemasok atau lessor.

“Selain utang menggunung, Garuda juga terlilit kerugian yang cukup besar. Saat ini, operational cost Garuda tiap bulan mencapai USD 150 juta, padahal pendapatannya hanya tinggal USD 50 juta. Artinya, tiap bulan perusahaan pelat merah ini merugi sekitar USD 100 juta,” ujar Fadli Zon.

Selain Garuda, Fadli Zon juga menyikapi permasalahan keuangan dari PT PLN (Persero). Ia merasa heran PLN bisa mempunyai utang yang mencapai Rp 500 triliun.

“Fakta ini juga ikut membuat kita heran. Bagaimana tidak? Enam tahun lalu, utang PLN hanya di bawah Rp 20 triliun. Namun, hanya dalam satu periode kekuasaan, utang PLN telah meroket menjadi Rp 500 triliun,” ungkap Fadli Zon.

Kantor Pusat PLN. Foto: PLN

Fadli Zon mengakui permasalahan keuangan kedua perusahaan tersebut juga terimbas pandemi COVID-19. Namun, ia menegaskan pandemi tidak bisa sepenuhnya dijadikan alasan atas menggunungnya utang perusahaan milik negara itu.

“Meski kabar buruk tadi meruak di tengah pandemi, namun sayangnya kita tak bisa menyalahkan pandemi. Sebab, sejak sebelum pandemi pun, utang dan kinerja BUMN kita telah mendapat sorotan dari berbagai lembaga internasional dan pemeringkat utang,” tutur Fadli Zon.

kumparan post embed