Kumparan Logo

Fakta-fakta Ekonomi RI Melambat di Bawah 5 Persen

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana gedung-gedung bertingkat di Jakarta. Foto: ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra
zoom-in-whitePerbesar
Suasana gedung-gedung bertingkat di Jakarta. Foto: ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra

Badan Pusat Statistik (BPS) sudah merilis data ekonomi Indonesia di kuartal III. Dalam rilisnya itu, BPS mencatat ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 4,94 persen secara tahunan atau year on year (yoy).

Berdasarkan catatan kumparan, angka itu tentu jauh lebih rendah ketimbang ekonomi Indonesia di kuartal II yang tumbuh 5,03 persen yoy. Berikut rangkuman fakta-fakta pertumbuhan ekonomi RI:

Lampaui Pertumbuhan Ekonomi AS hingga Jepang

Plt Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti mengungkapkan pertumbuhan ekonomi Indonesia itu jika dibanding negara lain masih tinggi dibanding Amerika Serikat (AS), Jepang, dan Korea Selatan (Korsel).

“Pertumbuhan ekonomi global tahun 2023 diproyeksikan tumbuh melambat dari tahun 2022. Sementara itu, negara berkembang diproyeksikan tumbuh di atas pertumbuhan ekonomi global dan negara maju,” kata Amalia dalam konferensi pers, Senin (6/11).

Tercatat, per kuartal III 2023 secara yoy, ekonomi AS hanya tumbuh 2,9 persen, Jepang dan Korea Selatan 1,4 persen.

Sementara, China pertumbuhan ekonomi di kuartal III 2023 sama dengan Indonesia yang sebesar 4,9 persen. Kemudian, India jauh di atas Indonesia yang sebesar 6,5 persen.

“Di tengah proyeksi perlambatan ekonomi dunia, beberapa negara ekonomi mitra dagang utang Indonesia tumbuh positif meskipun melambat,” tambah Amalia.

Penyebab Lambatnya Pertumbuhan Ekonomi RI

Plt. Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Senin (2/10/2023). Foto: Dok. BPS

Amalia membeberkan faktor yang berpengaruh pada kinerja pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal ini yakni perkembangan kinerja perdagangan internasional, berupa penurunan harga komoditas di pasar global yang berpengaruh pada penurunan ekspor komoditas unggulan Indonesia.

Dari sisi nilai ekspor, kata dia, batu bara, minyak kelapa sawit (CPO), dan nikel di kuartal III 2023 lebih rendah baik secara bulanan (mtm) maupun tahunan (yoy), tetapi dari sisi volume masih meningkat. Nilai ekspor batu bara turun 5,25 persen, CPO turun 6,29 persen, dan nikel naik 22,88 persen.

"Meskipun mengalami tren penurunan, neraca perdagangan Indonesia telah mencatatkan surplus selama 41 bulan berturut-turut pada kuartal III 2023, surplus neraca dagang mencapai USD 7,83 miliar, atau naik sekitar 0,17 persen dari kuartal sebelumnya," ungkap Amalia.

Amalia menuturkan ekonomi Indonesia tumbuh didorong oleh aktivitas domestik yang terjaga, seperti peningkatan mobilitas dan sektor pariwisata, terlihat dari jumlah penumpang di seluruh moda transportasi mengalami peningkatan pada kuartal III 2023.

embed from external kumparan

Sri Mulyani Sebut Pertumbuhan Ekonomi di Bawah Ekspektasi

Menteri Keuangan (Menkeu) mengakui realisasi pertumbuhan ekonomi pada kuartal III 2023 sebesar 4,94 persen yoy jauh lebih rendah dari ekspektasi pemerintah.

Sri Mulyani menjelaskan, pemerintah sudah mengantisipasi perlambatan ekonomi di kuartal III 2023. Namun dilihat dari data konsumsi yang dirilis BPS memang angkanya relatif lebih rendah dari ekspektasi pemerintah.

"Jadi kita melihat consumer confidence-nya tinggi, namun translation-nya kepada consumption itu ternyata tidak setinggi yang kita harapkan, ini perlu kita lihat pengaruhnya apa, apakah psikologis dengan kondisi El Nino, harga beras naik, dan berbagai faktor," ungkapnya.

Meski begitu, Menkeu mengakui ada beberapa data yang meningkat cukup bagus, seperti dari konsumsi Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 5,77 persen, meningkat cukup tinggi dari bayangan pemerintah.

"Ini confirm dengan tadi, industri manufaktur dan masuknya capital inflow, jadi ini masih sangat positive story dari Indonesia yang kita akan coba untuk jaga terus," pungkas Sri Mulyani.

Upaya Pemerintah Tingkatkan Pertumbuhan Ekonomi

Pemerintah menggelontorkan serangkaian paket kebijakan, mulai dari bantuan langsung tunai (BLT), bantuan beras, dan insentif PPN yang ditanggung pemerintah (PPN DPT) untuk perumahan. Hal itu dilakukan untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi RI.

Sri Mulyani menuturkan, baseline pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2023 berdasarkan proyeksi pemerintah yaitu 5,06 persen. Dengan banyaknya ketidakpastian ekonomi, pertumbuhan Indonesia bisa melemah ke 4,81 persen.

Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam LPDP Fest 2023, Kamis (3/8). Foto: Youtube/@Kemenkeu

"Dengan adanya paket ini, yang bisa berjalan di kuartal III, kita berharap bisa menambah 0,2 persen additional growth sehingga kita harapkan di kuartal IV pertumbuhan ekonomi bisa tetap dijaga di 5,01 persen," jelasnya.

Jika proyeksi tersebut bisa tercapai, lanjut Menkeu, pertumbuhan ekonomi untuk tahun 2023 secara keseluruhan (full year) diharapkan bisa terjaga di angka 5,04 persen.