Kumparan Logo

Freeport Gunakan Tumbuhan Lokal untuk Restorasi Lahan Bekas Tambang

kumparanBISNISverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Restorasi lahan bekas tambang PT Freeport Indonesia. Foto: PTFI
zoom-in-whitePerbesar
Restorasi lahan bekas tambang PT Freeport Indonesia. Foto: PTFI

PT Freeport Indonesia (PTFI) menggunakan sepenuhnya spesies tumbuhan lokal untuk restorasi lahan bekas tambang di sekitar Grasberg. Proses restorasi terus berjalan, agar kawasan tersebut dapat dimanfaatkan kembali sebagai area konservasi yang memadai bagi flora dan habitat yang aman bagi berbagai jenis satwa liar.

General Superintendent of Highland Reclamation and Monitoring PT Freeport Indonesia, Pratita Puradyatmika, menjelaskan upaya restorasi lahan bekas tambang yang telah berlangsung sejak awal masa operasional Grasberg, mendapatkan dukungan dari akademisi dan pakar lingkungan. Seperti Fakultas Pertanian Universitas Papua (FAPERTA UNIPA) dan Pusat Studi Reklamasi Tambang Institut Pertanian Bogor (IPB). Dukungan itu diberikan melalui pelaksanaan sejumlah penelitian.

Lokasi Grasberg yang berada di ketinggian sekitar 4.000 meter di atas permukaan laut, ujar Pratita, membuat area ini memiliki ekosistem alami yang belum tentu dapat dijumpai di daerah lain. Seperti didominasi oleh padang rumput dan dilengkapi tumbuhan semak serta herba eksotis.

“Konservasi plasma nutfah telah membantu kami melakukan upaya restorasi kawasan bekas tambang Grasberg di dataran tinggi dengan lebih optimal, mengingat membudidayakan tanaman dari dataran rendah sangat sulit dilakukan di Grasberg. Kami berharap, tambang terbuka Grasberg yang telah kami tutup dapat kembali pulih dan menjadi ekosistem yang sehat bagi flora dan fauna,” ujarnya melalui pernyataan tertulis, Rabu (9/9).

Menurut Pratita, dengan ketinggian dataran dan karakteristik tersebut, tantangan untuk merestorasi kondisi ekologi lingkungan semakin meningkat. Beberapa di antaranya adalah suhunya yang bisa mencapai 7° Celcius, curah hujannya yang begitu tinggi, intensitas cahayanya yang sangat rendah, dan kawasannya yang dihampari bebatuan tanpa tanah. Ini membuat kemampuan tumbuh berbagai jenis vegetasi menjadi sangat lambat.

Suasana tambang emas Freeport Foto: REUTERS/Muhammad Adimaja/Antara Foto

Selain menggunakan plasma nutfah, upaya lain yang juga bisa dilakukan untuk menyokong program restorasi Grasberg adalah memulihkan area tambang Grasberg dengan menggunakan metode biologi, atau bioremediasi. Wakil Dekan I FMIPA UNIPA, Maria Massora, mengatakan, bakteri yang diisolasi dari batuan bijih di tambang Grasberg berpotensi untuk dimanfaatkan dalam program restorasi melalui program bioremediasi untuk membantu mempercepat pemulihan lingkungan di sekitar area Grasberg.

"Kemampuan bakteri untuk mengembangkan mekanisme resistensi terhadap logam membuat bakteri tersebut dapat hidup pada media yang memiliki kadar logam tinggi seperti di area Grasberg, menunjang ketersediaan hara bagi tumbuhan, serta membantu mempercepat pemulihan lingkungan di area Grasberg,” ujar Maria yang pernah melakukan penelitian di kawasan itu.

Sementara Peneliti Pusat Studi Reklamasi Tambang Institut Pertanian Bogor, Iskandar, mengatakan upaya restorasi kawasan Grasberg membutuhkan kolaborasi yang kuat dan berkelanjutan antar berbagai sektor. "Kerja sama yang PTFI lakukan dengan dunia akademisi sangat membantu mempercepat upaya optimalisasi pemulihan kondisi ekologi tambang terbuka Grasberg,” katanya.

Aktivitas restorasi tidak hanya dilakukan PT Freeport Indonesia di area bekas pertambangan Grasberg, namun juga di wilayah operasi lainnya di dataran rendah. Khusus di Grasberg, restorasi sudah dilakukan sejak tahun 1999 dengan melibatkan berbagai pihak, baik kalangan akademisi maupun Pemerintah Kabupaten Mimika dan pemerintah pusat.