Kumparan Logo

Gedung BEI dan Rentetan Kisahnya

kumparanBISNISverified-green

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Bursa Efek Indonesia (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Bursa Efek Indonesia (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)

Senin (15/01) mungkin menjadi hari yang tak akan dilupakan bagi orang-orang yang sedang beraktivitas di Bursa Efek Indonesia (BEI) atau Indonesia Stock Exchange (IDX). Sekitar pukul 11.45 WIB, balkon lantai 1 Tower 2 gedung BEI roboh.

BEI sendiri adalah tempat bagi para investor untuk jual beli saham. Perputaran uang di BEI mencapai triliunan rupiah setiap harinya. Di Asia Tenggara, BEI disebut-sebut sebagai salah satu bursa efek terbesar.

Setiap harinya, para pelaku saham beraktivitas di gedung yang berlokasi di Jalan Jenderal Sudirman Kavling 52-53 Jakarta Selatan. Tak hanya itu, gedung ini juga disebut sebagai kawasan perkantoran premium.

Gedung BEI yang terdiri dari dua tower ini dibangun oleh perusahaan konstruksi, salah satunya PT Nusa Konstruksi Enjiniring Tbk (NKE). Untuk pengembangannya, PT Danayasa Arthatama Tbk adalah pihak yang bertanggung jawab. Sementara, PT Cushman and Wakefield Indonesia ditunjuk sebagai pengelola gedung BEI.

Tower pertama mulai berdiri dan digunakan pada tahun 1994. Tiga tahun berselang atau 1997, baru terdapat tower dua yang bisa digunakan. Kedua menara yang berdiri di atas area seluas 25.280 meter persegi itu sering disebut sebagai menara kembar.

Di dalam gedung BEI, terdapat berbagai tenant. Di situ juga terdapat berbagai catatan masa lalu perjalanan BEI yang terhimpun dalam sebuah museum. Adapun titik utama dalam gedung ini adalah trading floor atau tempat perdagangan saham. Di ruang ini juga biasa diadakan seminar tentang pasar modal.

BEI sendiri telah menjalani fase-fase panjang yang kemudian membentuknya menjadi pasar saham yang terus menunjukkan progres.

Bursa efek pertama kali muncul di Indonesia pada Desember 1912. Pemerintah Kolonial Hindia Belanda yang kala itu bercokol di Indonesia membangun tempat ini di pusat pemerintahannya, yaitu di Batavia (kemudian berganti menjadi Jakarta).

Akan tetapi, saat Perang Dunia I pecah, bursa Efek di Batavia ini kemudian ditutup. Tujuh tahun berselang, Bursa Efek ini kembali dibuka di beberapa kota seperti Jakarta, Semarang, dan Surabaya. Ketiga kota tersebut sendiri adalah kota besar di mana Kolonial Belanda kala itu memusatkan pemerintahannya.

Memanasnya situasi politik dunia kemudian membuat Perang Dunia kembali pecah. Meletusnya Perang Dunia II membuat Bursa Efek di Semarang dan Surabaya tutup tahun 1939. Tutupnya dua kantor itu kemudian disusul dengan penutupan bursa efek di Jakarta tahun 1952.

Tercatat, hingga tahun 1977 perdagangan di Bursa Efek kala itu vakum. Namun, beberapa tahun kemudian pasar modal mengalami pertumbuhan seiring dengan berbagai insentif dan regulasi yang dikeluarkan pemerintah.

Bursa Efek diresmikan kembali oleh Presiden Soeharto pada Agustus 1977. Kala itu bernama Bursa Efek Jakarta (BEJ). BEJ dijalankan di bawah Badan Pelaksana Pasar Modal (Bapepam). Pengaktifan kembali pasar modal ini juga ditandai dengan go public PT Semen Cibinong sebagai emiten (badan usaha yang mengeluarkan kertas berhaga untuk diperjualbelikan) pertama.

Selanjutnya, 13 Juli 1992 terjadi swastanisasi BEJ. Bapepam berubah menjadi Badan Pengawas Pasar Modal. Tanggal ini kemudian diperingati sebagai hari ulang tahun BEJ.

Puluhan tahun BEJ berjalan memutar modal masyarakat Indonesia. Akhirnya BEJ bertransformasi menjadi bentuk yang lebih besar pada Desember 2007. BEJ bersama Bursa Efek Surabaya (BES) diagabungkan menjadi satu dalam sebuah nama Bursa Efek Indonesia (BEI).

Perjalanan panjang ini menandakan sudah satu abad bursa efek mewarnai dunia usaha di Indonesia. Kini, tempat perputaran uang itu sedikit terluka. Puluhan manusia tercatat cedera dibuatnya.

Di Tower 2, lokasi terjadinya kecelakaan akan ditutup sementara, sedangkan tower 1 akan tetap digunakan.

Kondisi terkini selasar BEI (Foto: Helmi Afandi/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Kondisi terkini selasar BEI (Foto: Helmi Afandi/kumparan)