Guru Besar IPB: Lumbung Padi Nasional Bisa Tenggelam Akibat Perubahan Iklim
ยทwaktu baca 2 menit

Guru Besar Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB), Hasjim Bintoro, mengingatkan risiko besar perubahan iklim yang bisa menyebabkan kenaikan permukaan air laut. Bila itu dibiarkan, Indonesia akan kehilangan lumbung padi, alias wilayah yang jadi sumber produksi padi nasional bakal tenggelam.
"Pantura itu kalau permukaan air laut naik sampai 5 meter, apalagi 10 meter, sudah tidak ada lagi kawasan padi kita. Padahal padi kita mayoritas di Pantura," kata Bintoro dalam webinar Masa Depan Pangan dan Pangan Masa Depan yang digelar Dewan Guru Besar IPB, Kamis (10/8).
Berdasarkan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), kecepatan kenaikan permukaan air laut meningkat dua kali lipat dari 1,4 milimeter per tahun menjadi 3,6 milimeter per tahun sejak 2006 hingga 2015.
Tak bisa dianggap remeh, Guru Besar yang memiliki 4 paten di sektor pangan itu mengingatkan bagaimana bukti sejarah, bahwa pulau Jawa, Kalimantan, Sumatera dan Malaysia dulu satu dataran sebelum terpisah oleh lautan karena cairnya es di kutub.
"Oleh karena itu kita harus antisipasi bagaimana kalau Pantura kita sudah hilang karena terendam air apa yang harus kita lakukan," tegas dia.
Bintoro juga mengungkap masalah lain, di tengah kebutuhan pangan meningkat seiring pertumbuhan penduduk, jumlah petani di Indonesia justru makin sedikit.
BPS mencatat, dalam 5 tahun, sejak 2018-2022, luas panen padi di Indonesia lenyap 925 hektare. Luas panen padi di Indonesia pada 2018 seluas 11,37 juta hektare, jadi hanya 10,45 juta hektare di tahun 2022.
Hal itu tentu diikuti produktivitas yang turun. Tahun 2018 produksi padi di Indonesia mencapai 59,20 juta ton, lalu menjadi hanya 54,74 juta ton di 2022. Produksi padi dalam rentan itu merosot lebih dari 4 juta ton.
Di lain sisi, jumlah petani di Indonesia kian sedikit. BPS mencatat tahun 2019 terdapat 33,3 juta petani di Indonesia, dan tahun 2022 lalu tersisa hanya 30 juta petani saja.
"Kalau lahan pertanian itu karena perubahan iklim menjadikan tidak bisa digunakan lagi, maka mau tidak mau kita lihat ke lahan-lahan yang tadinya tidak kita perhatikan, yaitu lahan rawa, lahan gambut," pungkas dia.
